Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Bisnis Properti Malaysia Didorong Permintaan Lahan Industri

Bisnis properti Malaysia mulai bangkit kembali di tengah kondisi perekonomian negeri jiran itu yang belum sepenuhnya pulih. Permintaan lahan industri menjadi salah satu pendorong pemulihan bisnis industri.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  21:26 WIB
Ilustrasi kawasan industri di Malaysia. - HSL.com
Ilustrasi kawasan industri di Malaysia. - HSL.com

Bisnis.com, JAKARTA – Konsultan properti Savills menyebutkan pemulihan bisnis properti di Malaysia didorong oleh permintaan untuk industri. Pada kuartal III tahun ini, permintaan terhadap properti dari sektor industri menyumbang transaksi sebesar 780 juta ringgit (Rp2,73 triliun).

“Ke depan, kami berharap aktivitas bisnis properti semakin sehat, didorong oleh sektor industri. Kami juga melihat sejumlah potensi transaksi dalam tahap lanjut, yang diharapkan selesai sebelum akhir tahun ini,” kata Datuk Paul Khong, Managing Director Savills Malaysia, melalui rilis hasil risetnya.

Dia memerinci pada kuartal III tahun ini, sektor industri mengalami aksi paling besar selama periode tersebut dalam pembelian lahan industri, dipimpin oleh Hartalega NGC Sdn Bhd yang membeli seluas 60,6 hektare di Selangor untuk memperluas fasilitas manufaktur sarung tangan mereka.

Peningkatan permintaan global untuk sarung tangan medis dan lainnya menciptakan situasi di mana sebagian besar produsen tidak dapat memenuhi permintaan, dan kami Paul Khong berharap akuisisi serupa kembali terjadi pada masa mendatang.

“Pembelian menjadi sangat menarik karena lokasi lahan yang dibeli berdekatan dengan kantor pusat mereka di Sepang di mana semua infrastruktur yang diperlukan sudah tersedia,” ungkapnya.

Di Jasin, Melaka, Scientex Bhd, produsen besar industri film sekaligus pengembang properti rumah yang terjangkau, mengadakan perjanjian untuk memperoleh 1.358 hektare lahan dari Guocoland (Malaysia) Bhd seharga 260,2 juta ringgit (Rp913,32 miliar) dan 202 hektare lahan pertanian di Johor dari Lee Pineapple Co (Pte) Ltd dengan harga 185 juta ringgit (Rp649,37 miliar).

Akuisisi ini akan meningkat dan cadangan lahan mereka yang ada untuk mencapai tujuan Scientex membangun 50.000 rumah dengan harga relatif terjangkau di seluruh wilayah negeri jiran itu pada 2028, membantu memperkecil backlog yang signifikan dari properti residensial saat ini.

Kesepakatan paling signifikan di kota KL selama periode ini adalah akuisisi oleh Paramount Corporation Bhd dari Lanson Place dan Kondominium 8 dari Wing Tai Holdings Ltd dengan total nilai 243,8 juta ringgit (Rp855,76 miliar). Bangunan-bangunan itu berada di atas lahan seluas 4,54 hektare.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti malaysia
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top