Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cathay Pacific Pecat 5.900 Karyawan, Perumahan Hong Kong Terdampak

Bisnis properti di Hong Kong terutama residensial akan terdampak dari ribuan orang karyawan Cathay Pacific yang dipecat.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 25 Oktober 2020  |  19:58 WIB
Bangunan residensial di Hong Kong. - Bloomberg/Justin Chin
Bangunan residensial di Hong Kong. - Bloomberg/Justin Chin

Bisnis.com, JAKARTA – Pemutusan hubungan kerja besar-besaran di Cathay Pacific, maskapai penerbangan utama Hong Kong, kemungkinan akan semakin menyeret pasar properti kota yang lesu, dengan distrik-distrik yang dekat dengan bandara berpotensi menghadapi pemotongan tajam harga rumah dan sewa, menurut analis.

Pengumuman maskapai pada bahwa 5.900 orang di-PHK, termasuk awak kabin dan pilot, akan semakin meningkatkan jumlah penduduk yang menganggur di Hong Kong, yang naik ke level tertinggi hampir 16 tahun menjadi 6,4 persen pada kuartal ketiga,. Sebagai dampak virus corona.

Tingkat pengangguran naik 0,3 poin persentase dalam 3 bulan hingga September, sehingga jumlah total orang yang kehilangan pekerjaan menjadi 259.800.

Menurut penelitian konsultan properti Knight Frank, terdapat korelasi terbalik yang kuat antara pengangguran dan harga rumah di Hong Kong. Lonjakan tingkat pengangguran biasanya menyebabkan jatuhnya harga rumah 1 atau 2 bulan kemudian, kata Martin Wong, Direktur Asosiasi, Penelitian dan Konsultasi Greater China di Knight Frank.

"Dengan logika ini, kemungkinan harga rumah turun pada kuartal keempat. Untuk rumah sewa, karena sudah lebih banyak pasokan yang tersedia di pasar, terutama untuk hunian massal, akan juga akan ada penurunan harga sewa," ujarnya.

Konsultan properti itu memperkirakan harga rumah turun 3 persen hingga 5 persen. Sewa di lokasi seperti Tung Chung dan Tsing Yi, di mana banyak karyawan Cathay tinggal, bakal menurun 5 persen hingga 10 persen.

Indeks harga rumah resmi Hong Kong telah merosot 3,6 persen dari 394,8 pada puncaknya pada Juli 2018 hingga Agustus tahun ini. Harga properti residensial di pasar sekunder turun 1,1 persen pada Agustus, terbesar dalam 6 bulan.

Pada periode sebelumnya ketika tingkat pengangguran Hong Kong melonjak, terutama selama krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an, wabah SARS pada 2003, dan krisis keuangan global yang dimulai pada 2008, Knight Frank menemukan bahwa "harga perumahan massal berkorelasi negatif kuat dengan pengangguran di ketiga periode itu".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti hong kong cathay pacific

Sumber : Bangkok Post

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top