Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kejar Target Bauran EBT, ESDM Dorong Swasta Manfaatkan PLTS Atap

Untuk mencapai target bauran EBT 23 persen pada 2025, setidaknya dibutuhkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sekitar 9.000-10.000 MW.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 25 September 2020  |  11:48 WIB
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat masih ada kekurangan kapasitas pembangkit energi terbarukan yang cukup besar untuk mencapai target bauran EBT 23 persen pada 2025.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris mengatakan bahwa dalam 4 tahun terakhir pengembangan pembangkit EBT rata-rata hanya sebesar 500 megawatt (MW) per tahun.

Untuk mencapai target bauran EBT 23 persen pada 2025, setidaknya dibutuhkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sekitar 9.000-10.000 MW.

"Kalau kita tidak melakukan perubahaan apa-apa dengan tambahan 500 MW per tahun, maka kita hanya bisa menambah dari 2019-2024 mungkin hanya 2.000-2.500 MW. Kalau hanya seperti itu, business as usual, maka target 23 persen jadi sangat jauh gap-nya," ujar Harris dalam diskusi daring, Kamis (24/9/2020).

Oleh karena itu, imbuh Harris, dibutuhkan upaya serius dan konsisten dari semua pemangku kepentingan. Salah satu upaya yang diharapkan dapat mengejar target pencapaian bauran EBT tersebut adalah strategi green booster yang dicanangkan PLN.

"PLN punya green booster target cukup tinggi. Mereka targetkan EBT yang potensi dan skala besar. Tentunya kalau ini bisa diterapkan, target 23 persen bisa kita lampaui," katanya.

Selain itu, diperlukan pula inisiatif lain dari sektor swasta untuk mendorong percepatan pengembangan EBT. Harris berharap perusahaan swasta dapat turut berpartisipasi dengan memanfaatkan energi dari EBT, seperti melalui pemasangan PLTS atap, dan lainnya.

Salah satu perusahaan yang telah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan energinya dari EBT adalah Coca-Cola Amatil Indonesia.

Public Affairs, Comunication & Sustainability Director Coca-Cola Amatil Indonesia Lucia Karina mengatakan perusahaan telah menargetkan 60 persen kebutuhan energinya bersumber dari EBT dan energi rendah karbon di akhir 2020.

"Saat ini di akhir 2019, sudah mencapai 53,3 persen energi yang kami gunakan dari seluruh kegiatan operasional kami dan sebagian energi rendah karbon bersumber dari gas alam," katanya.

Dalam waktu dekat, Coca-Cola Amatil juga akan meresmikan instalasi panel surya atap di pabriknya di Cikarang Barat. Menurut Lucia, panel surya tersebut merupakan panel surya terbesar yang dipasang di fasilitas manufaktur di Asean.

Saat puncak panas matahari, panel surya tersebut dapat menghasilkan sekitar 7,34 megawatt peak (MWp).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian esdm energi baru terbarukan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top