Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Covid-19 ke Perkantoran Asia Pasifik Tak Separah Kawasan Lain

Cushman & Wakefield memprediksi subsektor perkantoran di Asia Pasifik hanya akan menerima pukulan kecil dari kebanyakan warga kawasan tersebut yang bekerja dari rumah.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 24 September 2020  |  16:47 WIB
International Finance Centre di Hong Kong./Bloomberg - Jerome Favre
International Finance Centre di Hong Kong./Bloomberg - Jerome Favre

Bisnis.com, JAKARTA – Resesi global saat ini diprediksi memiliki dampak tidak terlalu mengerikan dan tak terlalu parah pada bisnis perkantoran di Asia Pasifik, kecuali China, dibandingkan dengan tempat lain di seluruh dunia.

Menurut perusahaan jasa real estat Cushman & Wakefield (C&W), subsektor perkantoran di Asia Pasifik hanya akan menerima pukulan kecil dari kebanyakan warga kawasan tersebut yang bekerja dari rumah (work from home/WFH).

C&W memperkirakan bahwa perekonomian negara-negara di Asia Pasifik mencapai pemulihan produk domestik bruto (PDB) ke tingkat sebelum pandemi Covid-19 pada kuartal ketiga tahun depan, dalam skenario dasar.

Perlambatan dalam penciptaan pekerjaan baru yang menggunakan kantor serta hilangnya pekerjaan secara langsung menjadi tantangan fundamental sewa kantor selama 6 hingga 18 bulan ke depan, demikian laporan C&W yang diterbitkan pada Kamis (24/9/2020).

Meskipun demikian, permintaan, yang diukur dengan penyerapan bersih ruang perkantoran, di kawasan tersebut diperkirakan tetap positif mulai sekarang hingga 2030.

Penyerapan bersih ruang perkantoran di Asia Pasifik tahun ini diperkirakan turun 70 persen dibandingkan dengan tahun lalu menjadi sekitar 21 juta ft2 di bawah skenario dasar.

Dominic Brown, analis C&W untuk Asia Pasifik, area seluas itu mewakili tingkat penyerapan 2 persen. Itu merupakan angka terendah sejak C&W memulai pencatatan pada 2007.

Tahun depan, penyerapan bersih diperkirakan meningkat menjadi 28 juta ft2, kata C&W. Dari 2022 hingga 2030, C&W memperkirakan permintaan kantor bersih tumbuh 729 juta ft2 di wilayah tersebut.

"Peningkatan kerja fleksibel dan praktik WFH kurang lazim di Asia Pasifik secara keseluruhan dibandingkan dengan kawasan lain, sehingga tidak secara signifikan mengubah prospek pasar kantor di kawasan itu," kata Brown.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran bisnis properti

Sumber : The Business Times

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top