Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Resesi Tak Bisa Dihindari, Apindo: Asal Jangan Sampai Krisis Ekonomi

Untuk menghindari krisis, semua pihak harus segera bergerak. Hal pertama adalah menolong usaha mikro, kecil hingga besar agar bisa bernafas panjang.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 03 September 2020  |  11:40 WIB
Resesi Tak Bisa Dihindari, Apindo: Asal Jangan Sampai Krisis Ekonomi
Kendaraan melintas di Jalan Sudirman saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -  Isu soal resesi dinilai tidak perlu menjadi perdebatan lagi melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono mengatakan bahwa Indonesia tidak akan mungkin bisa menghindari itu. Baginya, kuartal I/2020 pun sebenarnya pertumbuhannya minus dibandingkan triwulan IV/2019.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II/2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen.

“Triwulan III ini juga akan negatif. Tapi ini harus dipertahankan. Kami mendorong agar tidak terjadi krisis ekonomi,” katanya pada diskusi virtual, Rabu (2/9/2020).

Sutrisno menjelaskan bahwa resesi tidak menjadi masalah besar. Alasannya semua negara mengalaminya. Akan tetapi, dia berharap jangan sampai terjadi krisis ekonomi.

“Kalau krisis membuat anjloknya ekonomi luar biasa. Ini yang harus ditolong untuk jangka pendek,” jelasnya.

Upaya terdekat inilah menurut Sutrisno dibutuhkan oleh semua pelaku usaha dari mikro sampai besar. Pemerintah harus bisa membuat mereka bernafas panjang.

Yang paling utama dilakukan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Apabila tidak bisa dilakukan, roda ekonomi tidak bisa bergerak.

Stimulus yang diberikan pemerintah saat ini baginya masih kecil. Sekitar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal banyak negara mengalokasinya sampai 20 persen.

Yang jadi masalah, selain kecil realisasinya terlambat. Tidak mencapai sepertiga dari total anggaran yang disiapkan. Inilah yang membuat daya beli lambat.

“Meski begitu, saya optimistis akhir tahun akan ada perbaikan. Kan anggaran harus dihabiskan. Tapi karena terburu-buru bisa jadi tidak akan efektif dan tidak tepat sasaran. Saya harap proses realisasi anggaran disegerakan dilakukan,” ucap Sutrisno.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis ekonomi apindo resesi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top