Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Cukai Rokok Tahun Ini Rp170 Triliun Sulit Terpenuhi

Pembatasan sosial berskala besar dan Covid-19 telah membuat orang membeli kebutuhan primer daripada membeli rokok.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 Agustus 2020  |  14:38 WIB
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian memperkirakan pendapatan cukai dari penjualan rokok pada tahun ini akan terkoreksi.

Supriyadi, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, pesimistis target penerimaan cukai dari industri rokok dapat mencapai target Rp170 triliun. Pasalnya, pandemi covid-19 membuat konsumen mengalihkan kebiasaan konsumsinya.

“Target cukai dari rokok tahun ini Rp170 triliun, tapi kemungkinan tidak tercapai atau paling mungkin sama dengan realisasi 2019. PSBB [pembatasan sosial berskala besar] dan Covid-19 telah membuat orang membeli kebutuhan primer,” katanya, Sabtu (15/8/2020).

Pada 2019, penerimaan cukai rokok untuk negara mencapai Rp164 triliun. Supriyadi menambahkan penurunan cukai akan linier dengan penurunan volume produksi rokok, tembakau, dan cengkih.

Hal itu bahkan telah terlihat sejak kuartal II/2020. Berdasarkan data BPS, industri pengolahan tembakau terkoreksi sebesar 10,84 persen year-on-year (yoy), sedangkan periode tahun sebelumnya masih tumbuh 0,68 persen.

Sementara itu, bila dibandingkan dengan kuartal I/2020, triwulan kedua mengalami koreksi hingga 17,59 persen. Supriyadi menambahkan bila penurunan itu disebabkan oleh penjualan eceran yang terhambat.

Adapun, segmen sigaret kretek tangan (SKT), lanjutnya, yang mengalami dampak paling hebat karena kebijajan jaga jarak membuat industri padat karya itu kekurangan produksi 40 persen sampai dengan 50 persen.

Menurut Supriyadi, segmen sigaret kretek mesin (SKM) masih akan tetap menguasai pangsa pasar dengan potensi pertumbuhan pada tahun ini. Akan tetapi, dia memperingatkan meningkatnya peredaran rokok ilegal di dalam negeri karena kenaikan harga jual eceran dan kenaikan tarif cukai.

Sementara itu, Luluk Nur Hamidah, Anggota Komisi IV DPR, berharap agar setiap kebijakan cukai melibatkan seluruh aspek hingga petani sebagai hulu. Menurutnya, petani tembakau menjadi objek yang paling dirugikan.

Dia menambahkan bahwa diperlukan adanya penataan ulang industri tembakau agar industri besar menyerap tembakau lokal. Selain itu, perlu ditetapkan harga batas tembakau agar tidak dipermainkan oleh tengkulak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Cukai Rokok pandemi corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top