Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Angkutan Udara Terkontraksi, Ini Kata Sriwijaya Air

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga kuartal II/2020, sektor transportasi dan pergudangan khususnya angkutan udara mengalami kontraksi hingga minus 80 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Penumpang tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta, Jumat (4/5/2018)./JIBI-Dwi Prasetya
Penumpang tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta, Jumat (4/5/2018)./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang juga tercermin dalam pertumbuhan domestik bruto di sektor transportasi dan perdagangan dialami langsung oleh angkutan udara atau maskapai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga kuartal II/2020, sektor transportasi dan pergudangan khususnya angkutan udara mengalami kontraksi hingga minus 80 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Sebelumnya, pada kuartal I/2020 sektor ini memang sudah mengalami kontraksi sebesar 13,21 persen.

Tim Corporate Communication Sriwijaya Air mengakui transportasi udara mengalami dampak yang signifikan dari penyebaran Covid-19 di Indonesia. Manajemen melanjutkan karena kondisi Covid-19 membuat masyarakat takut keluar dari rumah dan otomatis realitas ini menghentikan banyak roda perekonomian termasuk industri transportasi udara.

Namun, sambung tim, maskapai selalu mematuhi berbagai regulasi yang ditetapkan oleh regulator dan selama ini kami di Sriwijaya Air selalu menjalankan protocol Kesehatan Covid-19 dengan baik dan benar sehingga selalu bisa memastikan kenyamanan dan kesehatan dari pelanggan

“Kondisi di lapangan masih berubah-ubah, jadi evaluasi di jajaran manajemen terus dilakukan dari hari ke hari, minggu ke minggu sampai bulan ke bulan guna memastikan operasional perusahaan,” kata perwakilan Sriwijaya Air, Rabu (5/8/2020).

PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) memproyeksikan upaya memulihkan kinerja pada semester II/2020 masih terhadang oleh tingginya penambahan kasus covid-19 setelah pada semester I/2020 terkontraksi akibat berhentinya operasional maskapai selama tiga bulan.

Sebagai informasi, berdasarkan lapangan usaha, sektor yang tercatat mengalami penurunan paling dalam adalah sektor transportasi pergudangan, yaitu turun hingga 30,84 persen secara tahunan (y-o-y). Data BPS mencatat sektor yang turun paling besar adalah angkutan udara, yang terkontraksi sebesar 80,23 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan transportasi terdampak luar biasa karena imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan tidak adanya mudik pada liburan Idul Fitri tahun ini.

Meski demikian, sejalan dengan adanya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), beberapa indikator, salah satunya transportasi sudah mulai mengalami perbaikan, yang tercermin dari peningkatan transportasi udara internasional dan domestik pada Juni 2020.

Transportasi udara internasional dari Mei ke Juni tercatat sudah naik 54,7 persen, sementara transportasi udara domestik naik 791,38 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Selama Juni setelah adanya relaksasi PSBB sudah ada denyut ekonomi. Kami semua berharap triwulan III/2020 geliat ekonomi akan bagus dan pertumbuhan ekonomi akan bagus," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper