Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Stagnasi Ancam Pasar Properti Apartemen

Kondisi ekonomi nasional yang melemah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat secara umum, termasuk di sektor properti.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 02 Agustus 2020  |  18:28 WIB
Kendaraan bermotor melintas di depan gedung apartemen di Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Kendaraan bermotor melintas di depan gedung apartemen di Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar properti kondominium atau apartemen mengalami stagnansi pada semester I/2020, lantaran laju penjualan relatif sama dengan akhir tahun lalu, yakni dikisaran 95,4 persen. Hal ini diakibatkan oleh adanya pandemi Covid-19.  

Associate Director Strategic dan Consultancy Knight Frank Indonesia Donan Aditria mengatakan kondisi ekonomi nasional yang melemah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat secara umum.

Di tengah pandemi, sektor hunian vertikal, apartemen strata (kondominium) tercatat memiliki pertumbuhan positif di awal tahun karena para pembeli secara umum merupakan pengguna (end-user).

"Shelter atau hunian sebagai kebutuhan dasar individu menjadi hal yang tidak bisa dielakkan meski di tengah pandemi, terutama untuk perencanaan pembelian yang telah matang disusun sebelum ini," ujarnya, akhir pekan ini. 

Dia menuturkan pasar penjualan strata apartemen (kondominium) tetap menantang sampai saat ini, di tengah optimisme jumlah stok yang akan datang hingga tahun 2024. Menurutnya, para pengembang terus beradaptasi dengan berbagai promo penjualan.

Dia mengatakan, penurunan suku bunga diharapkan mampu memberi stimulus pada tingkat penjualan strata apartemen ke arah yang lebih positif dengan segmen pasar yang menjadi unggulan saat ini.

"Pasar penjualan strata apartemen tetap menantang di tengah penjualan yang stagnan cenderung menurun. Tingkat penjualan stagnan dan relatif sama di kisaran 95,4 persen di semester I tahun ini," katanya.

Donan memprediksi, masih akan ada pasokan baru hingga tahun 2024, sementara pada saat yang sama harus bersaing dengan pasar sekunder kondominium. Sekitar 47.408 unit baru diharapkan memasuki pasar antara tahun 2020 sampai 2024. 

"Sementara itu, 13.887 unit dijadwalkan selesai tahun ini. 79,39 persen dari total pasokan baru terletak di area non CBD," ucapnya.

Hingga semester I tahun ini terdapat pasokan eksisting yang meningkat 2,4 persen atau sebesar 5.120 unit menjasi 217.845 unit apartemen. Adapun kumulasi permintaan meningkat 2,2 persen menjadi 207.825 unit dari sebelumnya 203.285 unit.

"Saat ini stok unit eksisting di kelas menengah terdapat 41,9 persen, sedangkan untuk pasokan baru dari kelas menengah terdapar 35,7 persen atau sejumlah 16.945 unit," tuturnya. 

Donan menuturkn penjualan tertinggi di semester 1 tahun 2020 ini dari pasokan eksisting terdapat pada segmen middle dan lower middle masing-masing dikisaran 41 persen dan 25 persen. 

Lalu untuk penjualan tertinggi dari pasokan baru terdapat pada segmen upper dan lower middle masing-masing di kisaran 70,8 persen dan 65,7 persen, sedangkan kelas middle berada di kisaran penjualan 50,6 persen. 

"Tingkat rerata penjualan pasokan baru berada di angka 59,8 persen," katanya.

Donna menambahkan secara umum, rerata harga jual mengalami penurunan dimana sebesar 2,04 persen menjadi Rp36,4 juta per meter persegi. 

Saat ini berbagai penawaran promosi ditawarkan pengembang untuk menggerakan penjualan mulai dari program 0 persen uang muka, penyediaan fully furnished atau semi furnished secara gratis, beli sekarang bayar kemudian, insentif uang muka, angsuran rendah, hingga angsuran secara bertahap hingga 60 kali.

Sementara itu, Senior Director Leads Property Darsono Tan berpendapat saat ini untuk pasar kondominium akan sama dengan pasar perumahan yakni masih akan mengalami tekanan. 

"Kami prediksi tidak akan ada launch proyek baru sampai akhir tahun ini," ujarnya. 

Hal itu dikarenakan semua devoloper masih dalam posisi wait and see mengenai dua hal yakni pandemi Covid-19 dan kondisi ekonomi Inddonesia.

Namum demikian, beberapa pengembang apartemen sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menurunkan jumlah DP yang tadinya 20 persen hingga 30 persen menjadi 10 persen hingga 20 persen saja

Selain itu, masa pembayaran cicilan uang muka diperpanjang dari 24 bulan hingga 36 bulan menjadi 48 bulan. 

"Jadi sisa pembayaran 80 persen hingga 90 persen dibayarkan setelah bangunan selesai atau pembayaran DP selesai," katanya. 

Darsono menambahkan harga yang ditawarkan sekarang untuk kondominium belum dinaikkan yakni masih sama dengan harga di awal tahun 2020 dimana sekitar Rp34,47 juta per meter persegi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti apartemen covid-19
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top