Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Okupansi Apartemen Sewa Drop, Apa yang Harus Dilakukan Pengelola?

Sektor apartemen sewa terutama mengalami pelemahan karena banyak perusahaan yang menunda relokasi pekerjanya selama pandemi berlangsung.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 30 Juli 2020  |  16:29 WIB
Bangunan hunian vertikal berdiri di antara kawasan padat penduduk di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3). - Antara/Aditya Pradana Putra
Bangunan hunian vertikal berdiri di antara kawasan padat penduduk di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3). - Antara/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat keterisian apartemen sewa diperkirakan hingga akhir tahun berada di kisaran 40% hingga 50%.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan bahwa di tengah pandemi, berbagai sektor ekonomi menahan dan tertahan proses eskpansinya, baik sektor ekonomi lokal, nasional, maupun global.

Tentu saja, hal ini berimbas pada pergerakan dan pengiriman pekerja untuk proses perluasan usaha.

Sektor apartemen sewa terutama mengalami pelemahan karena banyak perusahaan yang menunda relokasi pekerjanya selama pandemi berlangsung. Belum lagi persaingan penawaran dari sektor hotel yang juga menawarkan layanan yang relatif sama dengan harga ekonomis.

"Strategi bertahan dalam bentuk penawaran khusus dari pengelola apartemen sewa menjadi penentu untuk bertahan saat ini, termasuk perlunya mempertahankan penyewa yang ada saat ini," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (30/7/2020).

Tingkat hunian apartemen sewa pada awal 2020 mencapai 59,8 persen.

Dia memperkirakan hingga akhir tahun ini, okupansi apartemen sewa bisa turun sebesar 20 persen atau mencapai di kisaran 40 persen hingga 50 persen.

Tingkat hunian rerata pada awal semester 2020 melemah, dampak kumulatif dari pembatalan penghuni baru dan pemutusan sewa jangka pendek. Namun, sebagian besar penghuni yang menyewa untuk jangka panjang masih stabil.

Menurutnya, tren apartemen sewa 2020 sampai akhir ini mengalami penurunan karena belum tertangkap 100 persen sehingga baru mulai muncul pada semester kedua.

"Service apartment ini berbanding lurus karena kebanyakan tenant merupakan ekspatriat yang disewa korporasi sehingga kalau perekonomian belum recover, maupun bisnis dan perekonomian belum langsung rebound, bisnis sewa apartemen ini tetap tertekan. Ekspatriat ini dari awal pandemi pada disuruh balik ke negara masing-masing," ucap Willson.

Selain itu, rendahnya okupansi apartemen sewa ini juga dikarenakan pembatasan perjalanan yang berlaku dari 2 bulan yang lalu berdampak pada sektor perhotelan.

Pasalnya, penawaran harga khusus dari sektor perhotelan untuk sewa jangka menengah dan panjang memberi efek domino negatif terhadap tingkat hunian apartemen sewa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apartemen apartemen sewa
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top