Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Soal Nasib Proyek 35.000 MW, Kementerian ESDM Tunggu Usulan PLN

Akibat turunnya permintaan listrik sebagai dampak pandemi Covid-19, sejumlah proyek pembangkit 35.000 MW diperkirakan akan kembali mengalami pergeseran waktu commercial operation date (COD).
PLN mengoperasikan Gardu Induk (GI) Wayame berkapasitas 2 x 30 Mega Volt Ampere (MVA). Istimewa/PLN
PLN mengoperasikan Gardu Induk (GI) Wayame berkapasitas 2 x 30 Mega Volt Ampere (MVA). Istimewa/PLN

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunggu usulan PT PLN (Persero) mengenai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk memetakan proyek 35.000 megawatt (MW) yang berpotensi ditangguhkan waktu beroperasinya.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan, dalam RUPTL 2019-2028 penyelesaian seluruh proyek 35.000 MW ditargetkan rampung pada 2028.

Namun, akibat turunnya permintaan listrik sebagai dampak pandemi Covid-19, sejumlah proyek pembangkit 35.000 MW diperkirakan akan kembali mengalami pergeseran waktu commercial operation date (COD) agar tidak membebani lebih jauh operasional PLN.

"Melihat penurunan permintaan yang sekarang kita bisa lihat di Jawa-Bali ada 3.000 MW pembangkit yang shutdown.  Belum lagi di sistem Sumatera.  Memang tertolong dengan kenaikan (konsumsi listrik) di rumah tangga, tapi untuk bisnis sama industri kelihatannya masih turun," kata Jisman dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/7/2020).

Oleh karena itu, kata Jisman, kementerian tengah menunggu usulan RUPTL baru dari PLN untuk memetakan proyek mana saja yang akan mengalami penyesuaian. Penyesuaian tersebut akan mengikuti proyeksi pertumbuhan konsumsi listrik yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Rencananya, Kementerian ESDM akan mengundang Kementerian Keuangan pekan depan untuk mendapat gambaran proyeksi pertumbuhan ekonomi.  

"Sampai saat ini masih menunggu dari PLN seperti apa usulan RUPTL yang baru untuk menyikapi penurunan tadi.  Yang jelas permintaan turun drastis kemungkinan ada pergeseran (proyek 35.000 MW), iya.  Berapa dan pembangkit mana akan dihitung," katanya.

Namun demikian, Jisman memastikan proyek energi baru terbarukan (EBT) dalam program 35.000 MW akan tetap menjadi prioritas penyelesaiannya agar target bauran EBT 23 persen pada 2025 tercapai.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga Juni 2020 proyek 35.000 MW yang telah COD mencapai 200 unit pembangkit dengan kapasitas total 8.187 MW atau 23 persen dari target kapasitas seluruhnya.  

Adapun, 98 unit dengan kapasitas 19.250 MW (45 persen) masih dalam tahap kontruksi dan 45 unit dengan kapasitas 6.528 MW (19 persen) sudah kontrak namun belum kontruksi.

Sisanya, sebanyak 839 MW (2 persen) yang terdiri atas 24 unit pembangkit masih dalam tahap pengadaan dan 724 MW (2 persen) terdiri atas 30 unit pembangkit masih dalam tahap perencanaan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, konsumsi litrik sepanjang semester I/2020 hanya tumbuh sebesar 0,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan konsumsi listrik paling banyak pada golongan pelanggan industri yang turun hingga 7,18 persen dibandingkan Juni 2019, golongan bisnis turun 6,68 persen, dan sosial turun 1,13 persen.  

Adapun, konsumsi listrik pada pelanggan rumah tangga naik 9,84 persen seiring meningkatnya aktivitas di rumah akibat kebijakan work from home (WFH).

Peningkatan juga terjadi pada golongan traksi, curah, dan pelayanan khusus yang naik hampir 43 persen seiring mulai beroperasinya  light rail transit (LRT) Jakarta pada awal tahun, sementara konsumsi listrik pada sektor pemerintah hanya tumbuh 1 persen.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi listrik pada Juni 2020 dibandingkan dengan Januari 2020 mengalami penurunan 7,06 persen.  Penurunan konsumsi paling besar terjadi di wilayah Bali yang turun hingga 32,87 persen.

Diikuti oleh Banten -12,82 persen, Jawa Barat -10,57 persen, Sulawesi Selatan Tenggara -7,68 persen, Sumatra Barat -7,12 persen, Jawa Timur -6,33 persen, Jawa Tengah -6,28 persen, DKI Jakarta dan Tangerang -5,62 persen.

"PLN memproyeksikan ke depan bila pandemi masih berlanjut, mereka memprediksi pertumbuhan konsumsi listrik hingga Desember 2020 minus 6,25 persen dibandingkan 2019," kata Rida.

Memperhitungkan turunnya pertumbuhan konsumsi listrik, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai memang perlu adanya peninjauan kembali terhadap proyek 35.000 MW.

"PLN perlu mengkaji terhadap proyek 35.000 MW.  Bukan harus dibatalkan, tapi harus dilihat lagi time schedule-nya.  Harus ada penyesuaian-penyesuaian juga," katanya ketika dihubungi secara terpisah.

Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan, pihaknya tengah mengevaluasi proyek 35.000 MW dalam RUPTL 2020-2029 dan tengah  memetakan pelanggan besar khususnya di sistem Jawa-Madura-Bali dan sistem Sumatra yang secara total menyumbang 85 persen dari konsumsi listrik nasional .  

"PLN akan agresif dorong penjualan dan mengejar pelanggan besar, khususnya di sistem Jamali dan Sumatra untuk mengurangi risiko oversupply," kata Zulkifli.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper