Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pabrikan Dorong Ekspor Guna Selamatkan Utilitas

Inaplas mendata utilitas industri hulu petrokimia, yakni olefin dan aromatik, masih stabil di kisaran 90-95 persen pada Mei 2002. Namun demikian, angka tersebut anjlok ke level 75 persen pada akhir semester II/2020.
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Produsen Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan pabrikan petrokimia akan mendorong kinerja ekspor pada semester II/2020 untuk meningkatkan utilitas pabrikan.

Inaplas mendata utilitas industri hulu petrokimia, yakni olefin dan aromatik, masih stabil di kisaran 90-95 persen pada Mei 2002. Namun demikian, angka tersebut anjlok ke level 75 persen pada akhir semester II/2020.

Adapun, utilitas industri hilir petrokimia atau plastik pada awal kuartal II/2020 berada di posisi 70 persen. Pada akhir semester I/2020 hingga saat ini, angka tersebut kini turun ke posisi 60 persen.

"[Peningkatan utilitas] itu tergantung [masing-masing] korporasi apakah mereka bisa membuat pasar ekspornya jalan. Kalau ekspornya bagus pada kuartal III/2020, [utilitas industri petrokimia] bisa naik ke level 80-85 persen," ujar Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono kepada Bisnis, Senin (27/6/2020).

Selain peningkatan kinerja ekspor, Fajar menyampaikan cara lain yang bisa digunakan adalah perubahan pengaturan mesin produksi untuk melayani industri lain. Fajar mencontohkan kolaborasi yang dapat dilakukan antara industri minyak nabati dan industri kemasan oli.

Di sisi lainnya, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) akan mendorong kinerja ekspor minyak goreng ke negara-negara di Afrika bagian timur dan Pakistan. Namun demikian, peningkatan kinerja tersebut masih terhalang oleh tingginya pajak impor produk kemasan berukuran besar.

"Itu masalah komunikasi saja. [Industri kemasan oli] tinggal merubah pengaturan saja, gampang. Value network ini yang [juga] harus dikembangkan. Bahan baku ada, mesin ada, cetakan ada," ujarnya.

Adapun, permintaan plastik terbesar dimiliki oleh industri kemasan yakni mencapai sekitar 2,2 juta ton per tahun atau mengolah sekitar 40 persen total produksi plastik nasional. Sementara itu, industri pengguna plastik seperti otomotif dan komponen konstruksi hanya mengolah 18,2 persen dari total produksi plastik atau sekitar 1 juta ton.

Sebelumnya, Ketua Umum Gimni Sahat Sinata menyampaikan saat ini permintaan produk hilir minyak nabari sedang tinggi pada negara dengan pendapatan per kapita rendah. Sahat memberikan contoh seperti negara-negara yang ada di Afrika bagian timur.

Menurutnya, kebanyakan negara di daerah tersebut cenderung mengimpor minyak nabati dalam produk jadi ketimbang bahan baku. Pasalnya, negara-negara tersebut tidak memiliki refinery pengolahan minyak sawit mentah (CPO).

Maka dari itu, Sahat mengusulkan setidaknya dua saran kepada pemerintah untuk meningkatkan volume ekspor produk hilir minyak nabati. Pertama, pengurangan pajak kemasan plastik impor.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper