Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pendekatan Green Economy Pacu Pertumbuhan saat Pandemi Covid-19

Green economy sendiri merupakan suatu gagasan isu keberlanjutan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus mencegah meningkatnya emisi gas rumah kaca dan mengatasi dampak perubahan iklim.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  02:15 WIB
Industri hijau - Ilustrasi
Industri hijau - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah pakar menilai pendekatan green economy dapat mendorong laju perekonomian Indonesia sekaligus menjadi salah satu solusi untuk mengatasi berbagai dampak ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Green economy sendiri merupakan suatu gagasan isu keberlanjutan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus mencegah meningkatnya emisi gas rumah kaca dan mengatasi dampak perubahan iklim.

Chief Executive Officer Landscape Indonesia Agus Sari mengatakan prinsip dasar sustainability adalah ketika faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan harus dipetakan secara komprehensif. Mengorbankan salah satunya, jelas dia, akan mengorbankan ketiga-tiganya

Melalui pendekatan green economy, pemerintah akan dapat memetakan sektor mana yang pantas mendapatkan stimulus. Jangan sampai stimulus tersebut, ujarnya, justru diberikan kepada sektor yang rentan atau bahkan merusak. Pemetaan tersebut juga untuk melihat sektor mana yang tahan banting terhadap segala kondisi, termasuk pandemi saat ini.

“Pandemi ini jarang terjadi tapi semua orang tahu itu pasti terjadi. One way or another, apakah ini black swan? Belum tentu, karena ini pasti terjadi, hanya waktunya saja yang belum kita tahu. Jadi, kita harus bisa antisipasi hal ini sejarang apa pun dia terjadi," ujarnya dalam Asian Insights Conference 2020, dalam keterangan pers, Rabu (22/7/2020).

Agus menambahkan, salah satu sektor yang harus menjadi perhatian pengembangan green economy adalah sektor energi, khususnya energi terbarukan yang masih sangat bisa dikembangkan.

Tidak hanya itu, pandemi juga mengajarkan bahwa sektor kesehatan dan obat-obatan yang ada di Indonesia masih sangat rentan. Hal ini membuat kedua sektor tersebut menjadi sangat penting untuk dikembangkan.

Provinsi Jawa Barat telah memulai penerapan langkah-langkah sustainability dalam pembangunan dan industri manufaktur. Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, ada tujuh peluang yang tengah menjadi fokus Provinsi Jawa Barat dalam memajukan ekonomi di tengah pandemi. Salah satunya adalah bisnis dan industri yang mengarah pada sustainable.

“Kami sedang melakukan transformasi terhadap lima pabrik plastik untuk menjadi pabrik solar, menggunakan sampah kota menjadi bahan pembakaran pengganti batu bara yang sedang dibangun di kawasan Bogor dan beberapa daerah di Jawa Barat,” jelasnya.

Selain itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga telah mengidentifikasi pembangunan rendah karbon dapat menghasilkan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari enam persen dalam setahun, dari sekarang hingga 2045. Pemerintah memiliki peranan penting untuk menciptakan strategi investasi hijau yang berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali ke rencana semula.

Implementasi green economy kini tengah dipersiapkan dan mulai dilirik oleh para investor dan pelaku bisnis. Executive Director Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Gita Syahrani memaparkan bahwa investasi hijau merupakan salah satu stimulus efektif dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19.

Pemerintah daerah telah menerapkan kebijakan inovatif untuk pembangunan lestari yang menjaga lingkungan tapi mensejahterakan rakyat seperti Perda Sigi Hijau dan Peraturan Bupati Siak Hijau. Hal ini dilakukan agar setiap pembangunan bisa menjaga fungsi ekologis seperti ketersediaan air, kualitas  tanah dan udara yang baik serta akses terhadap sumber energi terbarukan.

Apabila ini terjadi, maka ketahanan terhadap bencana, termasuk Covid-19, akan meningkat. Kendati demikian, besarnya potensi yang akan dihasilkan dari ekonomi hijau ini tidak serta-merta langsung menarik minat investor.

“Risiko yang tinggi dan proses yang panjang menjadi salah satu faktor pemberat bagi investor untuk masuk ke sana. Ditambah lagi, proyeksi keuntungan yang masih belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Executive Chairman Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, Fitrian Ardiansyah memaparkan daya tahan dalam sebuah ekonomi hijau menjadi sangat penting terutama dari sisi investasi.

“Pasalnya, tidak akan ada investor jika usaha tersebut tidak bertahan lama atau bahkan tidak memberikan keuntungan ataupun menyebabkan masalah baru. Profit berkaitan dengan produktivitas, berkaitan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Model bisnis yang dicari investor adalah model bisnis yang selalu bisa mendorong produktivitas sekaligus menjamin keberlangsungan dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ungkapnya.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna mengatakan, kerja sama yang apik antara pemerintah pusat dengan lembaga keuangan, serta perusahaan swasta sangat dibutuhkan untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Bank DBS Indonesia sendiri berkomitmen menciptakan lingkungan yang seimbang antara ekonomi dan bisnis sebagai upaya lembaga keuangan menjalankan bisnis yang berkelanjutan bagi generasi masa depan dan lingkungan hidup.

“Kami terus berupaya menerapkan nilai dan langkah keberlanjutan dalam setiap lini bisnis, budaya kerja dan aktivitas perbankan kami. DBS Asian Insights Conference merupakan salah satu bentuk komitmen Bank DBS Indonesia sebagai lembaga perbankan yang digerakkan oleh tujuan dalam menciptakan keseimbangan ekonomi dan lingkungan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bappenas green economy
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top