Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Baja Lapis Impor Mengikis Kinerja Pabrikan Lokal

Volume impor yang eksesif telah menjadi cerita lama bagi industri baja lapis. Datangnya pandemi virus corona atau Covid-19 membuat volume impor baja lapis turun. Di saat yang sama, utilitas pabrikan lokal tertekan akibat turunnya permintaan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  15:47 WIB
Ilustrasi / Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.
Ilustrasi / Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Zinc Aluminium Steel Industry (IZASI) menyatakan baja lapis impor mengikis kinerja industri baja lapis nasional.

Volume impor yang eksesif telah menjadi cerita lama bagi industri baja lapis. Datangnya pandemi virus corona atau Covid-19 membuat volume impor baja lapis turun. Di saat yang sama, utilitas pabrikan lokal tertekan akibat turunnya permintaan.

IZASI mencatat utilitas industri baja lapis baru bisa menembus level 50 persen pada akhir tahun lalu setelah konsisten berada di kisaran 40 persen pada 2016-2018.

Namun demikian, peningkatan utilitas ke level 55 persen disebabkan oleh meninngkatnya permintaan nnasional sebesar 28 persen.

IZASI mendata kapasitas terpasang industri baja lapis nasional mencapai 1,5 juta ton, sedangkan total permintaan baja lapis pada 2019 mencapai 1,6 juta ton. Dengan kata lain, pasar baja lapis nasional hanya memerlukan volume impor sekitar 2,5 persen atau sekitar 100.000 ton.

Namun demikian, total impor baja lapis pada 2019 mencapai 890.998 ton atau sekitar 55 persen dari total permintaan nasional. Adapun, baja lapis dari China dan Vietnam memiliki pangsa pasar hingga 49 persen atau 89 persen dari total impor.

Direktur Eksekutif IZASI Maharani Putri mengatakan banjirnya baja lapis impor tersebut telah membuat dua efek yakni pengurangan kapasitas produksi dan mendorong arus kas ke zona merah.

Oleh karena itu, Maharani berharap pemangku kepentingan dapat mengabulkan adanya penambahan bea  masuk terhadap baja lapis impor.

"Harusnya bisa mendapatkan final determination [petisi penambahan bea masuk] tanggal 26 Agustus, tapi tidak tahu [kepastian tanggalnya saat ini] karena Covid-19. Apakah masih berjalan penyelidikannya atau tidak [kami belum tahu]," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/7/2020).

Maharani memberikan contoh dua pabrikan yang terdampak impor tersebut, yakni PT NS Bluescope Indonesia dan PT Saranacentral Bajatama Tbk.

Maharani menyatakan Bluescope Indonesia telah merugi jutaan dalam denominasi dolar Amerika Serikat selama 2017-2018.

Sementara itu, Bajatama telah menutupe satu lini produksinya belum lama ini. Adapun, Bajatama memiliki dua lini produksi yakni baja lapis galvanized dan baja lapis galvalume.

"Yang satu lini, yaitu galvanized steel, ditutup, yang galavlume masih jalan," ujar Direktur Utama Bajatama Handaja Susanto kepada Bisnis.

IZASI mendata Bajatama memiliki kapasitas terpasang sebanyak 150.000 ton per tahun atau 9,52 persen dari total kapasitas terpasan industri baja lapis nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor industri baja baja
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top