Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Genjot Produktivitas, Pengembangan Talenta Digital Beri Angin Segar

Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital dalam 15 tahun, sehingga dibutuhkan rata-rata sekitar 600.000 talenta digital setiap tahun.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  14:32 WIB
Disiapkan juga masa magang setelah peserta selesai mengikuti program DTS. - digitalent.kominfo.go.id
Disiapkan juga masa magang setelah peserta selesai mengikuti program DTS. - digitalent.kominfo.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menjadikan pengembangan sumber daya manusia (SDM) atau talenta digital sebagai prasyarat yang harus dipenuhi dalam melakukan akselerasi transformasi digital.

Staf khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan SDM, Dedy Permadi, mengatakan bahwa untuk mendorong percepatan digital, sumber daya manusia ini akan dilatih berdasarkan tiga kluster.

"Kominfo sudah mencanangkan 3 level pembangunan SDM, yaitu basic digital skill, intermediate digital skill dan advance digital skill," ujarnya lewat diskusi virtual, Selasa (21/7/2020).

Dia menjelaskan bahwa Basic Digital Skill merupakan program literasi digital, sementara Intermediate Digital Skill akan berkaitan dengan talenta digital dari sisi teknis, sedangkan Advance Digital Skill ditujukan bagi pemimpin perusahaan ataupun kementerian/lembaga.

Dedy mengatakan Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital dalam 15 tahun, sehingga dibutuhkan rata-rata sekitar 600.000 talenta digital setiap tahun. Adapun untuk kebutuhan industri ke depan, dia mengatakan bahwa kluster Intermediate ini adalah kluster yang menjawab kebutuhan tersebut.

Intermediate adalah untuk level teknisi. Gelombang tiga akan dibuka di Januari 2021 untuk berbagai tema seperti analisis maha data, kecerdasan buatan, komputasi awan, keamanan siber, dan lainnya. Program ini sudah dirancang sejak 2018 dengan output 1000 talenta, kemudian 2019 dengan output 25.000 talenta, 2020 ini target 60.000 talenta, tetapi karena Covid-19 kami geser semua dari pelatihan tatap muka secara daring,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan kebutuhan industri ke depan program tersebut diharapkan memberikan output talenta yang bisa mengisi ruang akan kebutuhan SDM yang berfokus pada sisi teknologi di industri.

“Di 2018 angka kepuasan peserta digital terhadap program ini ada di atas 90 persen, di 2019 angka kepuasan juga diatas 90 persen. Di 2020 ini, Program ini melibatkan tidak hanya industri, tetapi juga 96 [instansi] pendidikan formal, yaitu universitas dan politeknik dengan tujuan agar program ini yang ada keberlanjutan sehingga talenta digital yang dihasilkan sangat berpeluang untuk menjadi talenta yang dibutuhkan [pasar],” ucapnya.

Dia menyebutkan bahwa potret ekonomi digital Indonesia saat ini begitu besar.

“Ekonomi digital menyumbang 11 persen dari PDB, ini angka yang menurut saya peluang yang luar biasa untuk dikembangkan, apalagi UMKM yang berpotensi untuk menarik karyawan atau pekerja masuk ke dalam bidang digital itu diproyeksikan bisa mencapai 26 juta sampai 2022 nanti,” ujarnya

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati pun menyambut baik langkah dari pemerintah tersebut. Namun, dia berharap disituasi saat ini pemerintah perlu fokus untuk memenuhi kebutuhan SDM selama Covid-19  

“Saya tertarik dengan 3 kluster itu. Minimal terlihat ada satu pemetaan dan ini adalah langkah baik dari pemerintah, tetapi ini diharapkan program ini dapat merespon kebutuhan jangka pendek di masa Covid-19 terlebih dahulu. Hal ini agar implementasinya lebih terukur untuk merespon kondisi saat ini,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal pun melihat bahwa di 2025 menjadi puncak sekaligus awal persaingan industri dan perdagangan dalam era revolusi industri 4.0. sehingga Indonesia harus menyiapkan diri dari sekarang baik SDM untuk memasuki era digitalisasi ekonomi dan robotisasi dalam industri manufakrur.

“Apa yg dilakukan kemenkominfo sudah baik dan benar. Tinggal, selain mengajak dunia usaha maka harus juga melibatkan serikat pekerja dalam kerangka tetap memberikan perlindungan kesejahteraan bagi buruh yang masuk dalam pasar kerja digitalisasi ekonomi dan robotisasi tersebut,” ucapnya.

Sementara itu, Sekertaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar mengatakan bahwa langkah pemerintah menjadi angin segar dalam menggenjot produktivitas tenaga kerja Tanah Air.

“Dengan pelatihan kecakapan digital tersebut tentunya akan menggenjot produktivitas bagi tenaga kerja kita yang berkorelasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kita. Yang pasti pemerintah harus menstandarkan pelatihannya pada berbasis teknologi yang mendukung produktivitas, karena menurut saya pelatihan vokasional untuk meningngkatkan skill pekerja adalah sebuah kebutuhan saat ini,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja transformasi digital
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top