Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Kun Wahyu Wardana

Kun Wahyu Wardana

Kepala Divisi Manajemen Risiko dan Transformasi Perusahaan PT Jasa
email Lihat artikel saya lainnya

Berkelit dari Tekanan Covid-19 dengan Manajemen Risiko Onfensif

Di balik kesulitan terdapat banyak kemudahan. Jika diterjemahkan dalam bahasa manajemen, risiko dapat diartikan bahwa di balik ancamannya, sesungguhnya selalu terdapat banyak peluang yang dapat dieksplorasi.
Bisnis.com - 26 Juni 2020  |  11:03 WIB
Jalan kosong terlihat di Wuhan, provinsi Hubei, China, Selasa (28/1/2020). Instagram - emilia via Reuters. Perusahaan komestik Lin Qingxuan melakukan transformasi bisnis sehingga bisa keluar dari tekanan pandemi Covid/19
Jalan kosong terlihat di Wuhan, provinsi Hubei, China, Selasa (28/1/2020). Instagram - emilia via Reuters. Perusahaan komestik Lin Qingxuan melakukan transformasi bisnis sehingga bisa keluar dari tekanan pandemi Covid/19

Ketika Virus Corona atau Covid-19 menjadi pandemi, tidak hanya mengakibatkan krisis kesehatan tetapi juga memukul dengan keras sektor ekonomi. Banyak perusahaan yang pada akhirnya kehabisan nafas.

Perusahaan yang berplatform digital pun tak luput ikut tersapu. Sebut saja Airbnb, Lyft, Uber, Grab dan Traveloka yang selama ini dengan kokoh bertengger sebagai perusahaan digital terkemuka, terpaksa harus memangkas karyawan demi bertahan ditengah pandemi. Namun, ada juga perusahaan yang mampu menunjukkan resiliensinya, mampu berselancar di atas gelombang perubahan drastis dari perilaku bisnis.

Tatkala model bisnis yang mengandalkan high touch dan mobilitas manusia secara masif dengan intensitas tinggi menjadi tak lagi relevan.

Dampak dari orang-orang memilih atau dipaksa memilih tinggal rumah, Zoom menjadi salah satu perusahaan aplikasi yang mengalami booming. Aplikasi komunikasi yang sontak naik kelas menjadi kebutuhan primer bagi hampir semua orang, terutama bagi yang melakukan work from home. Berkah bagi perusahaan baru besutan Eric Yuan itu membuatnya termasuk pendatang baru yang mendadak menjadi orang terkaya versi majalah Forbes.

Merespon perubahan perilaku bisnis, perusahaan seakan tak punya opsi kecuali melakukan transformasi digital. Perusahaan yang memandang bahwa menjadi digital (being digital) merupakan strategi yang memampukan dalam mengatasi disrupsi. Apakah dengan langkah ini akan menjawab tantangan tersebut?

Menurut Steven Denning dalam bukunya The Age of Agile (2018), perbedaan antara pemenang dan pecundang bukanlah sekedar memiliki akses terhadap teknologi dan big data. Pembeda hakikinya terletak pada ketangkasan dalam memanfaatkan teknologi dan data.

Dengan kata lain, mentransformasi perusahaan menjadi agile management. Perusahaan menjadi lebih adaptif dan meningkatkan produk dan jasa agar mampu memenuhi perubahan teknologi dan kebutuhan pelanggan dengan cepat. Perubahan itu bisa berujung pada efisiensi, perbaikan kualitas atau bahkan dengan melahirkan produk dan jasa yang baru.

Dalam konteks kenormalan baru, konsultan manajemen dunia McKinsey & Company menegaskan keharusan perusahaan untuk lebih inovatif dalam berbisnis. Perubahan perilaku pelanggan menjadi faktor yang paling diperhitungkan. Secara garis besar, perusahaan dalam berbisnis menjadi sangat peduli dengan kondisi yang aman buat pelanggan.

Physical distancing merupakan fakta kehidupan yang mensyaratkan adanya penataan ulang ruang dan model bisnis baru, mempercepat transformasi digital agar dapat meningkatkan produktifitas, kualitas dan konektifitas dengan end-customer.

Dari kedua perspektif tersebut, baik yang dikemukakan oleh Denning maupun McKinsey, titik simpulnya terletak pada customer focus dan kemampuan berinovasi dengan mengeksplorasi peluang yang ada.

Pergeseran perilaku menjadi kenormalan baru dan meningkatkan ketidakpastian perusahaan dalam mencapai sasaran. Dari perspektif manajemen risiko, pergeseran tersebut akan menimbulkan risiko baru (emerging risk) atau memperbesar probabilitas dan dampak risiko yang ada (existing risk) menjadi peristiwa. Oleh karena itu, menjadi penting untuk meninjau ulang profil risiko dan efektifitas mitigasi yang ditetapkan sebelumnya.

Selain itu mengarungi kenormalan baru kemungkinan akan menimbulkan paradoks dalam organisasi. Alih-alih desain organisasi yang dituntut gesit, justru manajemen risikonya bersifat statis dan terlalu dibebani dengan proses administratif. Manajemen risiko yang dominan pada paradigma risiko sebagai ancaman sepertinya tak cukup mengoptimasi strategi perusahaan.

Paradigma manajemen risiko semacam itu akan cenderung berfokus internal, berkarakter takut risiko (risk averse) dan mengeksploitasi bisnis model yang ada.

Paradigma ini bertentangan secara diametral dengan model bisnis perusahaan yang menghendaki kegesitan (agility). Dalam konsep manajemen risiko sebenarnya sudah mulai diamplifikasi bahwa ia tidak selamanya negatif (downside risk) tetapi dapat juga bersifat positif (upside risk). Namun, ruh organisasi lebih cenderung untuk tetap memperlakukan risiko sebagai hal negatif dan mengerem laju organisasi.

Alhasil menyikapi risiko pun menggunakan opsi yang defensif seperti menolak (avoid), mengalihkan (transfer), mengurangi (reduce) dan menerima (accept) dengan tingkat selera risiko yang rendah. Opsi untuk melakukan eksplorasi peluang bisnis menjadi terabaikan.

Padahal senafas dengan Al-Qur’an dalam surah Al-Insyirah disebutkan bahwa inna ma’al ‘usri yusra (di balik kesulitan terdapat banyak kemudahan). Jika diterjemahkan dalam bahasa manajemen, risiko dapat diartikan bahwa di balik ancamannya, sesungguhnya selalu terdapat banyak peluang yang dapat dieksplorasi.

Pada tataran ini perusahaan perlu memahami dengan tepat berbagai perubahan pada lanskap bisnisnya sebagai penetapan konteks dan menyesuaikan strategi manajemen risiko dengan melakukan risk paradigm shifting, dari defensif menjadi lebih ofensif. Dari risk mitigation (down side risk focus) bergerak ke arah risk optimization (upside risk focus). Dengan pendekatan ini, manajemen risiko akan bekerja dalam ritme yang sejalan dengan agile management untuk merangkul kenormalan baru.

Perusahaan kosmetik Lin Qingxuan menarik untuk dijadikan contoh seperti diuraikan dalam Harvard Business Review berjudul How Chinese Companies Have Responded to Coronavirus. Krisis memaksa perusahaan menutup 40% tokonya, termasuk semua lokasinya di Wuhan.

Perusahaan kemudian mengubah model bisnis dengan menjadikan ratusan karyawannya sebagai beauty advisor (influencer online). Dampaknya, penjualan online meningkat tajam, bahkan di Wuhan yang merupakan episentrum pandemi, dibandingkan dengan sebelum wabah.

Oleh karena itu, menjadi perusahaan yang agile dengan platform digital dan ditopang dengan manajemen risiko yang disruptif menjadi sebuah formula yang dibutuhkan organisasi. Perusahan tidak hanya memiliki kesiapan dalam menghadapi kenormalan baru, pelanggan pun merasa mendapatkan nilai baru dari transformasi korporasi tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajemen risiko covid-19 Opini bisnis
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top