Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Antisipasi Eksodus dari China, Tingkatkan Kapasitas Peti Kemas!

National Maritime Institute (Namarin) Indonesia harus meningkatkan kapasitas pelabuhan peti kemas untuk mengantisipasi eksodus investor dari dari China.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  15:30 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (19/5/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (19/5/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia harus meningkatkan kapasitas pelabuhan peti kemas untuk mengantisipasi para investor yang berencana hengkang dari pabrikan dan industri dari China.

Pengamat Maritim dari National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan negara-negara di kawasan Asia Tenggara masuk dalam layar radar para investor yang akan hengkang itu. Alasan migrasi para pabrikan demi mencari biaya pekerja yang lebih rendah dibandingkan dengan di China mendesak dilakukan.

"Myanmar dan Kamboja adalah negara-negara yang diincar oleh mereka. Indonesia, juga tentu saja termasuk lokasi yang juga diminati," kata Siswanto, Kamis (25/6/2020).

Dia menilai salah satu yang ditawarkan oleh pemerintahan negara-negara tujuan dalam menarik investasi eks China itu adalah fasilitas pelabuhan. Dari sejumlah analis menjelaskan kebutuhan investasi sebesar itu diperlukan oleh Indonesia, Myanmar dan Kamboja untuk meningkatkan kapasitas terminal peti kemas internasional mereka hingga mampu melayani 30 juta TEU.

Menurutnya, kelemahan utama pelabuhan di negara-negara ini dibandingkan dengan pelabuhan di China adalah konektivitas antar pelabuhan di dunia.

Siswanto menjelaskan berdasarkan data analis senior firma konsultasi kemaritiman Drewry, Eleanor, maka diperlukan investasi sekitar US$13 milIar untuk mengembangkan terminal-terminal peti kemas yang ada di kawasan Asia Tenggara.

Hal itu supaya bisa melayani migrasi throughput dari China yang diperkirakan mencapai 267 juta twenty foot equivalent unit (TEU). Di sisi lain, agregat kinerja kontainer kawasan Asia Tenggara hanya 159 juta TEU.

Saat ini di China, lanjutnya, terdapat 40 terminal di 18 pelabuhan yang mampu melayani kapal-kapal berkapasitas mulai dari 14.000 TEU hingga kapal peti kemas jumbo dengan throughput 267 juta TEU. Konektivitasnya juga sangat global.

Pihaknya berpendapat jika eksodus investor China terjadi (sebetulnya sebagian dari mereka sudah mengalihkan usahanya ke kawasan Asia Tenggara), pelabuhan atau terminal peti kemas di Indonesia, Myanmar dan Kamboja dapat dipastikan akan kelojotan.

Tak hanya masalah teknis kepelabuhan, negara-negara yang tengah merayu investor eks China juga dihadapkan dengan kesiapan sumber daya di bidang kepelabuhan. Pasalnya dengan populasi terbesar di dunia, menjadi logis, jika jumlah pekerja sektor pelabuhan di Negeri Panda tersebut lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya.

"Pekerja pelabuhan di sana produktivitasnya berada pada level 334 TEU/1.000 pekerja. Sementara di Indonesia saat ini tidak diketahui data pasti kemampuan kemampuan pekerja pelabuhan per TEU," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelabuhan china
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top