Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Moody’s Perkirakan Ekonomi Global Bisa Terkontraksi Lebih Dalam

Moody’s memproyeksikan perkonomian global akan terkontraksi 4,6 persen pada tahun ini, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar minus 4 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  11:37 WIB
Moody's Investor Service. - Bloomberg
Moody's Investor Service. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Dampak pandemi virus corona pada ekonomi negara-negara G20 akan lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Hal ini membuat lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service merevisi turun proyeksi pertumbuhannya.

Dalam laporan Global Macro Outlook 2020-2021 yang dirilis Senin (22/6/2020), Moody’s memproyeksikan perkonomian global akan terkontraksi 4,6 persen pada tahun ini, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar minus 4 persen.

Moody’s mengatakan pemulihan ekonomi diperkirakan akan memakan waktu panjang dan baru dimulai pada paruh kedua tahun ini. Badan tersebut bahkan memperkirakan kontraksi pada kuartal II/2020 akan menjadi yang terburuk sejak Perang Dunia II.

Badan tersebut mengatakan ekonomi maju di G20 akan berkontraksi 6,4 persen tahun ini, sedangkan negara  berkembang diperkirakan terkontraksi 1,6 persen. Pada saat yang sama, Moody's meningkatkan perkiraan pertumbuhan negara G20 tahun 2021 dari 4,8 persen menjadi 5,2 persen.

“Data PDB riil kuartal I yang lemah di semua ekonomi G20 menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat pandemi mulai meningkat di bulan Maret hampir di mana-mana, terlepas dari upaya pemerintah untuk memberlakukan lockdown pada saat itu,” ungkap Moody’s dalam laporan tersebut.

Penurunan tajam dalam kegiatan ekonomi terlihat dalam setiap data yang dirilis untuk bulan April dan Mei, termasuk produksi, pemanfaatan kapasitas, penjualan, perdagangan, hunian hotel, dan kedatangan wisatawan.

Tingkat kontraksi ekonomi juga bervariasi di berbagai negara, tergantung pada waktu dan ketatnya lockdown dan langkah-langkah lain yang dipaksakan karena pertimbangan kesehatan. Sebagian besar negara akan mencatat data ekonomi bulanan terlemahnya di bulan April, diikuti oleh sedikit peningkatan di bulan Mei.

Data ekonomi kemungkinan besar akan meningkat pada bulan Juni setelah kebijakan lockdown di sejumlah negara mulai dilonggarkan.

Pemulihan ekonmi cenderung bergerak lambat dan memakan waktu lama, karena sejumlah norma baru berlaku bahkan setelah adanya pelonggaran pembatasan, seperti aturan jarak aktivitas sosial. Bahkan jika kegiatan kembali normal, seperti di sektor konstruksi dan manufaktur, masalah seputar kesehatan yang terus berlanjut selama beberapa waktu untuk membebani permintaan layanan yang membutuhkan kontak dengan satu sama lain.

Meskipun sejumlah bisnis akan memulai aktivitas kembali, sebagian besar di antaranya akan ditutup secara permanen, yang mengakibatkan hilangnya pekerjaan jangka panjang. Bahkan ketika ekonomi perlahan pulih, kerugian output karena tekanan dari virus corona tidak akan pernah sepenuhnya pulih.

Moody’s mengatakan pemulihan ekonomi terkait erat dengan kemampuan pemerintah untuk membuka perekonmian mereka sambil menjaga kesehatan masyarakat. Langkah-langkah seperti pengujian skala besar, contact tracing, dan karantina akan diperlukan untuk memulihkan kepercayaan dengan mengurangi rasa takut akan penularan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global moody's
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top