Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Eropa Pastikan Penerapan Pajak Digital, tanpa Tunggu Hasil dari OECD

Eropa memastikan akan ada pajak untuk perusahaan raksasa digital, kendati proyek pajak digital yang digawangi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) gagal.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 20 Juni 2020  |  21:05 WIB
Lambang Uni Eropa terpampang di depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (27/5/2020). - Bloomberg/Geert Vanden Wijngaert
Lambang Uni Eropa terpampang di depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (27/5/2020). - Bloomberg/Geert Vanden Wijngaert

Bisnis.com, JAKARTA - Eropa memastikan akan ada pajak untuk perusahaan raksasa digital, kendati proyek pajak digital yang digawangi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) gagal.

European Internal Market Commissioner Thierry Breton menyatakan hal tersebut seperti dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (20/6/2020).

“Kami lebih suka melakukan ini dalam kerangka kerja global, sebagai bagian dari diskusi OECD, selama tahun 2020,” kata Breton.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat yang mengumumkan untuk menarik diri dari perundingan, dapat kembali ke meja perundingan pada Oktober, November atau bahkan Desember.

"Yang menjadi sangat jelas adalah pada akhir Desember, apakah akan ada kesepakatan dalam OECD, dan kami akan mengimplementasikannya, atau apakah tidak ada kesepakatan, maka Eropa akan menyajikannya," katanya.

Pada Rabu pekan ini, Amerika Serikat mengatakan pihaknya akan menarik diri dari upaya jangka panjang di Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) untuk mengembangkan pajak global.

AS juga telah mengancam tarif pembalasan terhadap negara yang memberlakukan pungutan terhadap pendapatan digital dari perusahaan-perusahaan Amerika.

Breton juga menyuarakan optimisme mengenai adopsi rencana stimulus Uni Eropa untuk memulai kembali ekonomi benua, selama pertemuan puncak pada bulan Juli, ketika Jerman akan mengambil alih jabatan presiden bergilir Dewan Eropa.

Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel dengan dukungan dari Perancis dan Bank Sentral Eropa, memperingatkan sisa kepemimpinan Uni Eropa bahwa mereka akan membahayakan pemulihan ekonomi blok dan mengambil risiko kekalahan pasar jika mereka gagal menyelesaikan negosiasi atas paket stimulus masif bulan depan.

Sebanyak 27 pemimpin Uni Eropa mengadakan debat pertama mereka pada rencana stimulus 750 miliar euro (US$ 840 miliar) yang diusulkan untuk membantu pemulihan ekonomi dari dampak kebijakan lockdown Covid-19.

Para pemimpin tersebut setuju untuk bertemu langsung bulan depan dengan tujuan mencapai sebuah perjanjian.

Breton optimistis akan melakukan upaya agar ekonomi Eropa mampu melewati transisi lingkungan dan menjadi karbon netral pada tahun 2050.

"Transisi itu terjadi sebagai bagian dari strategi industri, yang melihat perusahaan-perusahaan Eropa merangkul metode dan model baru tanpa harus menanggung biaya tambahan," kata Breton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa oecd pajak digital
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top