Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyelesaian Proyek Pembangkit 35.000 Megawatt Bisa Molor

Penyelesaian program pembangkit 35.000 Megawatt (MW) diperkirakan mengalami kemunduran dari target semula, yakni pada 2025.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  13:50 WIB
PLTU Jawa 8 -  Istimewa / PLN
PLTU Jawa 8 - Istimewa / PLN

Bisnis.com, JAKARTA - Penyelesaian program pembangkit 35.000 Megawatt (MW) diperkirakan mengalami kemunduran dari target semula, yakni pada 2025.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan sepanjang 2015 hingga 2019, dalam program kelistrikan 35.000 MW, pihaknya telah menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik 14.793 MW dari 35.000 MW yang direncanakan. Selain membangun pembangkit listrik 14.763 MW, PLN juga telah membangun transmisi sepanjang 20.715 KMS dan gardu induk 75.160 MVA dari 2015 hingga 2019.

Berdasarkan data paparan PLN Mei 2020, pembangkit program 35.000 MW tepatnya 35.519 MW dilakukan oleh PLN sebesar 8.862 MW dan Independent Power Producer (IPP) sebesar 26.657 MW.

"Sebagian dari program pembangunan itu, akan bertambah dengan selesainya pada tahun ini dan tahun depan," ujarnya dalam RDP dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (17/6/2020).

Untuk PLN, dari total 8.862 MW yang sudah dilakukan perencanaan sebesar 8 persen atau 734 MW, dalam tahap pengadaan sebesar 9 persen atau 829 MW, yang sudah konstruksi ada sebanyak 43 persen atau sebanyak 3.811 MW dan yang telah Commercial on Date (COD) ada sebanyak 3.488 MW atau sebesar 40 persen.

Lalu untuk IPP, dari total 26.657 MW, yang telah kontrak namun belum konstruksi ada sebanyak 6.878 MW atau sebesar 26 persen, yang sudah konstruksi ada sebanyak 17 persen atau sebanyak 4.649 MW dan yang telah Commercial on Date (COD) ada sebanyak 15.130 MW atau sebesar 57 persen

Sementara itu, untuk progress pembangkit 7.000 MW, tepatnya kapasitas 7.913 MW, yang telah COD sebesar 7.452 MW atau sebesar 94 persen dan sebesar 6 persen atau 461 MW dalam konstruksi.

Program 7.000 MW ini terdiri dari FTP-1 sebesar 2.674 MW dimana yang tengah konstruksi sebesar 8 persen atau 205 MW, lalu FTP-2 sebesar 1.386 dimana yang tengah konstruksi sebesar 55 MW atau 4 persen, dan regular sebesar 3.854 MW dimana yang tengah konstruksi sebesar 201 MW atau 5 persen.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019 - 2028, program 35.000 MW ditambah 7.000 MW dari program sebelumnya dijadwalkan selesai seluruhnya pada 2023. Namun, untuk menyesuaikan kondisi suplai dan demand saat ini, program 35.000 mw direncanakan akan selesai seluruhnya pada 2025.

"Sesuai RUPTL 2019-2028, tambahan 35.000 MW dan 7.000 MW dijadwalkan selesai tahun 2023. Untuk RUPTL 2020-2029 sedang dievaluasi dengan mempertimbangkan supplai dan demand terutama adanya Covid-19," katanya.

PLN, lanjut Zulkifli, akan melakukan peninjauan lebih mendalam dan menyesuaikan kondisi demand listrik yang tengah mengalami penurunan signifikan akibat adanya pandemi Covid-19.

Meskipun secara umum beban listrik mengalami penurunan signifikan, namun PLN tetap berkomitmen untuk melaksanakan upaya mengatasi penurunan itu setelah pemerintah memutuskan untuk membuka kembali secara bertahap aktivitas ekonomi masyarakat pada pekan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN listrik pembangkit listrik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top