Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembangan Pembangkit Panas Bumi Terganjal Aspek Pendanaan

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Firmandha Ibrahim mengungkapkan tantangan pengembangan panas bumi saat ini yakni terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dalam fase eksplorasi.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 12 Juni 2020  |  07:05 WIB
Petugas melakukan pengawasan dan pengecekan pada pembangkit listrik tenaga panas bumi. Istimewa - PLN
Petugas melakukan pengawasan dan pengecekan pada pembangkit listrik tenaga panas bumi. Istimewa - PLN

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) tidak mudah akibat terbatasnya lembaga keuangan yang memberikan kredit dalam fase eksplorasi.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Firmandha Ibrahim mengungkapkan tantangan pengembangan panas bumi saat ini yakni terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dalam fase eksplorasi.

Lalu harga Energi Baru Terbarukan (EBT) masih bersaing dengan pembangkit fosil sehingga perlu efisiensi biaya untuk mencapai harga keekonomian listrik. Selain itu, transparansi dan jangka waktu penerbitan izin dapat mempengaruhi keekonomian proyek.

"Lalu banyak pengembang yang belum memenuhi character, capacity, capital, condition, dan collateral)," ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (11/6/2020).

Riki menuturkan area prospek pengembangan panas bumi berada di hutan konservasi. Selain itu, tantangan lainnya yakni cadangan panas bumi tak sesuai dengan perencanaan dan risiko dalam masa eksplorasi sangat tinggi.

Dia menambahkan Geo Dipa sendiri terdapat 4 Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) dengan sumber daya 1.210 MW dengan kapasitas yang telah terpasang sebesar 115 MW.

"Rencana pengembangan sesuai RUPTL sebesar 615 MW," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari Ida mengungkapkan sejumlah tantangan pengembangan panas bumi di Indonesia.

Sebut saja seperti area prospek panas bumi berada di kawasan hutan konservasi dan tropical rainforest heritage of Sumatra (TRHS).

Potensi yang bagus ada di hutan konservasi sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri karena di area konservasi hanya boleh kembangkan di zona pemanfaatan untuk bisa dikembangkan panas bumi.

"Lalu tantangan lain terkait kelayakan proyek panas bumi untuk tarif listrik masyarakat dimana yang kita tahu tarif listrik inginnya enggak naik-naik," ujarnya.

Pihaknya tak menampik pengembangan panas bumi dari sisi kelayakan proyek keekonomian proyek belum bisa kompetitif dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memang lebih tinggi harganya.

Hal ini dikarenakan pengembangan panas bumi dr survei eksplorasi, eksploitasi hingga pembangunan pembangkit jauh lebih panjang jalannya dibandingkan dengan membangun PLTU.

Selain itu, tantangan pengembangan panas bumi lainnya yakni terkait isu sosial dan perizinan dimana hampir semua pengembang yang mengembangkan pertama kali masuk ke wilayah panas bumi.

"Masyarakat juga pada bertanya-tanya apalagi panas bumi juga melakukan pengeboran seperti minyak. Jadi masy bertanya kalo bor gagal apakah seperti Lapindo. ini yanv sering kali jadi resisten khawatir lahan rusak, takut kalau ada apa-apa seperti Lapindo," tuturnya.

Cadangan panas bumi juga tak seperti perencanaan karena keterbatasan permintaan listrik setempat sehingga cadangan ada dan sumber daya ada tetapi perencanaan enggak bisa dibangun banyak - banyak karena tak ada permintaan.

Tak hanya itu, akses pendanaan sebelun feasibility studi juga menjadi sebuah tantangan pengembangan panas bumi. Hal ini karena memang resiko pengembangan panas bumi terutama di sisi eksplorasi masih sangat tinggi sehingga perbankan pasti mikir-mikir kalau mau memberikan pinjaman dari awal.

"Ya kalau dapat panas buminya, kalau enggak," kata Ida.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

panas bumi eksplorasi pendanaan
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top