Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masih Lima Tahun, Kementerian ESDM Pesimistis Target Pembangunan PLTP Tercapai

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), seharusnya di 2025 sudah bisa membangun sekitar 7.200 MW agar dapat mencapai target bauran energi sebesar 23 persen.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  20:26 WIB
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) dalam bauran energi 23 persen yakni sebesar 7.241,5 megawatt diperkirakan tak akan tercapai pada 2025.

Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari mengatakan potensi PLTP di Indonesia cukup besar yakni sebesar 23,9 Gigawatt, namun pemanfaatannya baru 8 persen atau sebesar 2.130,7 megawatt (MW).

Kapasitas terpasang sebesar 2.130,7 MW ini berasal dari 16 PLTP pada 14 WKP. Adapun target tahun ini kapasitas terpasang ada 2.270,7 MW.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), seharusnya di 2025 sudah bisa membangun sekitar 7.200 MW agar dapat mencapai target bauran energi sebesar 23 persen. Lalu dalam punya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019 - 2028 menyebutkan targetnya di 2025 sebesar 6.310,5 MW.

"Roadmap yang memang mendekati realistisnya. Untuk 2025 sesuai roadmap, sekarang keliatannya kita hanya bisa bangun 3.352,6 MW. Jadi memang hampir separuh dari target 7.241,5 MW," ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (11/5/2020).

Dia menuturkan apabila dilihat dari roadmap memang akan mengalami kemunduran yakni tak akan tercapai di 2025 namun akan tercapai di 2030.

"Ini di update serealistis mungkin yang diharapkan 2020 hingga 2030 bisa tercapai kapasitas 8.008 MW," katanya.

Dalam peta jalan pengembangan panas bumi 2020 - 2030, Kementerian ESDM juga membagi ke dalam beberapa kategori.

Berdasarkan proses pengembangan, terdapat proyek eksisting yang berjalan  dan PPA (Power Purchase Agreement) terdapat 57 proyek di 28 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan kapasitas sekitar 2.232 MW.

Lalu terdapat proyek pipeline udah di RUPTL namun belum PPA itu terdapat 44 proyek pada 34 WKP/WPSPE dengan kapasitas 1.630 MW.

"Ada juga potensial belum masuk RUPTL ada 76 proyek di 54 wilayah ada 2.015 MW," katanya.

Berdasarkan target waktu Commercial On Date (COD), ada proyek jangka pendek 2020 - 2024 yakni 29 proyek dengan besarnya 740 MW.

Lalu jangka menengah 2025 -2028 yakni 71 proyek dengan kapasitas 2.872 MW. Untuk jangka panjang 2029-2030 sebanyak 77 proyek dengan kapasitas 2.265 MW.

Berdasarkan sumber daya panas bumi, terdapat temperatur tinggi lebih dari 225 derajat celcius sebanyak 131 proyek dengan kapasitas 4.995 MW. Lalu untuk temperatur menengah 125 derajat celcius sampai 225 derajat celcius ada 882 MW di 546 proyek.

Ida mengungkapkan tantangan pengembangan panas bumi di Indonesia yang pertama bahwa area prospek panas bumi berada di kawasan hutan konservasi dan tropical rainforest heritage of Sumatra (TRHS).

Potensi yang bagus ada di hutan konservasi sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri karena di area konservasi hanya boleh kembangkan di zona pemanfaatan untuk bisa dikembangkan panas bumi.

"Lalu tantangan lain terkait kelayakan proyek panas bumi untuk tarif listrik masyarakat dimana yang kita tahu tarif listrik inginnya enggak naik-naik," ujarnya.

Pihaknya tak menampik pengembangan panas bumi dari sisi kelayakan proyek keekonomian proyek belum bisa kompetitif dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memang lebih tinggi harganya.

Hal ini dikarenakan pengembangan panas bumi dr survei eksplorasi, eksploitasi hingga pembangunan pembangkit jauh lebih panjang jalannya dibandingkan dengan membangun PLTU.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

panas bumi kementerian esdm
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top