Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laju Inflasi China Melambat di Bulan Mei

Laju inflasi di China melambat, sedangkan penuruanan aktivitas manufaktur semakin dalam di bulan Mei, menambah ketidakpastian terhadap pemulihan dari penurunan akibat virus corona.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 10 Juni 2020  |  12:55 WIB
Daging babi - Istimewa
Daging babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan laju inflasi dan penuruanan aktivitas manufaktur di China semakin dalam pada Mei 2020, sehingga menambah ketidakpastian terhadap pemulihan ekonomi akibat virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, Biro Statistik Nasional China melaporkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 2,4 persen di bulan Mei dari tahun sebelumnya, lebih rendah dari kenaikan 3,3 persen di bulan April, dan di bawah median perkiraan analis sebesar 2,7 persen.

Sementara itu, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) turun 3,7 persen di bulan ini dari 3,1 persen di bulan April. Analis sebelumnya memperkirakan penurunan 3,3 persen.

CPI telah berkurang selama empat bulan terakhir. Kenaikan dalam harga daging babi, yang merupakan elemen kunci CPI negara itu, melambat menjadi hanya di bawah 82 persen pada bulan Mei. CPI inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang lebih fluktuatif, tetap tidak berubah pada 1,1 persen.

"Disinflasi CPI sangat cepat terjadi," kata ekonom di Commerzbank AG, Zhou Hao, seperti dikutip Bloomberg. "Jika tren ini berlanjut, CPI akan berubah menjadi deflasi mungkin pada akhir kuartal ketiga,” katanya.

Tekanan manufaktur dan inflasi menunjukkan bahwa permintaan di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut masi lemah, meskipun ada upaya pemerintah baru-baru ini untuk mendongkrak di dalam negeri dan mendorong perusahaan yang berorientasi ekspor untuk memanfaatkan potensi pasar domestik.

“Laju output China tetap negatif. Butuh waktu lebih lama bagi PPI untuk kembali positif,” kata kepala ekonom China di Australia & New Zealand Banking Group Raymond Yeung.

Sementara itu, kepala ekonom China di Nomura International, Lu Ting, percaya bahwa penurunan inflasi dan berlanjutnya deflasi manufaktur akan memberi bank sentral China lebih banyak ruang untuk menerapkan stimulus kebijakan untuk mengimbangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian

"Kami mempertahankan pandangan kami bahwa PBOC harus menambah likuiditas melalui pemotongan rasio persyaratan cadangan, berbagai fasilitas pinjaman, dan bahkan pembelian obligasi pemerintah pusat,” ungkap Lu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pertumbuhan Ekonomi ekonomi china

Sumber : bloomberg

Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top