Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tertekan Pandemi Covid-19, Utilitas Industri Kopi Olahan Anjlok

Penurunan utilitas industri kopi olahan terjadi secara merata, baik yang berasal dari kelompok industri kecil dan menengah maupun berskala besar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  18:07 WIB
Pekerja menjemur biji kopi Arabika Gayo di lapangan desa, Bandar Baro, Aceh Utara, Aceh, Rabu (11/3/2020). Harga biji kopi Arabika Gayo sejak awal tahun 2020 mengalami penurunan pada kisaran Rp52 ribu per kilogram dari harga sebelumya Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. ANTARA FOTO - Rahmad
Pekerja menjemur biji kopi Arabika Gayo di lapangan desa, Bandar Baro, Aceh Utara, Aceh, Rabu (11/3/2020). Harga biji kopi Arabika Gayo sejak awal tahun 2020 mengalami penurunan pada kisaran Rp52 ribu per kilogram dari harga sebelumya Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. ANTARA FOTO - Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA - Utilitas industri kopi olahan saat ini anjlok ke bawah level 35 persen. Adapun utilitas pabrikan pada awal tahun berada di kisaran 85-98 persen. Hal ini terjadi akibat adanya pandemi Covid-19.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) mendata industri kecil dan menengah (IKM) kopi olahan anjlok ke kisaran 10-20 persen. Sementara itu, industri kopi olahan berskala besar hanya mampu menjaga utilitas di kisaran 30-35 persen.

"Mereka [pabrikan] mengurangi jam kerja menyesuaikan dengan aturan [pembatasan sosial berskala besar]/PSBB] yang berlaku. Kalau permintaan pasti ada pengaruhnya, cuma seberapa besar kami belum tahu," kata Ketua Bidang Kopi Speciality dan Industri Moelyono Soesilo kepada Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Moelyono melanjutkan krisis yang disebabkan pandemi Covid-19 mempengaruhi kinerja ekspor kopi olahan nasional. Pasalnya, negara tujuan ekspor saat ini juga melakukan protokol penguncian.

Dia mencatat selama 20 tahun terakhir permintaan kopi olahan lokal di pasar global tetap tumbuh walaupun ada dua di negara tujuan ekspor krisis pada 2012 dan 2018. “[Krisis kali ini] permintaanya tidak menurun saja sudah bagus."

Adapun, pandemi Covid-19 menghapus target pertumbuhan produksi kopi olahan pada tahun ini menjadi 0 persen. Sebelumnya, Moelyono menyatakan produksi kopi olahan pada tahun ini tumbuh di kisaran 4,5-9 persen dari realisasi tahun lalu.

Moelyono mencatat produksi kopi olahan pada tahun lalu mencapai 660.000 ton. Dengan kata lain, pihaknya sebelumnya menargetkan produksi kopi olahan menjadi 11,5 juta karung—12 juta karung atau setara 690.000 ton hingga 720.000 ton.

Moelyono mendata lebih dari 50 persen produksi bijih kopi mentah telah melalui proses hilirisasi. Hampir 60 persen kopi asalan dari petani telah melalui proses pengeringan (roasting), sedangkan selebihnya diserap dalam bentuk komoditas. Jika dirinci lebih jauh, industri kopi lokal memiliki kapasitas roasting sekitar 690.000—700.000 tin per tahun, sedangkan penggilingan (grinding) sekitar 390.000—400.000 ton.

Di sisi lain, produksi bubuk kopi ritel mendominasi hasil gilingan bijih kopi yakni 70 persen untuk produksi kopi bubuk dengan ampas dan 20persen untuk kopi bubuk tanpa ampas. Adapun, 10 persen dari hasil gilingan kopi dialokasikan untuk produksi minuman rasa kopi, permen rasa kopi, dan produk makanan dan minuman lainnya yang berbahan kopi.

Pada awal 2020, Moelyono memproyeksikan utilitas grinding pada tahun ini berada di sekitar level 86,33 persen atau sekitar 600.000 ton. Sementara itu, utilitas grinding diprediksi stabil di posisi 95 persen pada tahun ini dengan konsumsi bubuk kopi nasional di sekitar 320.000 ton.

“Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton pada 2017 atau 8 persen dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84 persen merupakan kopi jenis robusta dan 27,16 persen kopi jenis arabika,” kata Moelyono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi harga kopi Utilitas
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top