Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyusutan Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan Berlanjut

Tren penurunan ini akan terus berlanjut seiring dengan kontraksi impor yang jauh lebih dalam ketimbang kontraksi ekspor.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  12:36 WIB
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro (dari kanan), Head of Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto, dan Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy menjadi pembicara dalam Macroeconomic Outlook di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro (dari kanan), Head of Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto, dan Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy menjadi pembicara dalam Macroeconomic Outlook di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) diproyeksikan akan kembali menyusut pada kuartal-kuartal ke depan.

Seperti diketahui, Bank Indonesia mencatat CAD pada kuartal I/2020 menyusut ke level -1,4 persen dari PDB dengan nominal mencapai US$3,9 miliar, jauh lebih rendah dari kuartal IV/2019 yang mencapai -2,8 persen dari PDB dengan nominal US$8,1 miliar.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan tren penurunan ini akan terus berlanjut seiring dengan kontraksi impor yang jauh lebih dalam ketimbang kontraksi ekspor. Konsekuensinya, neraca dagang Indonesia dan CAD akan cenderung membaik sepanjang tahun 2020 ini.

"Kami perkirakan CAD sepanjang tahun 2020 hanya sebesar -1,81 persen dari PDB, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai -2,72 persen dari PDB," kata Andry, Rabu (20/5/2020).

Mengecilnya CAD pada kuartal I/2020 disebabkan oleh membaiknya komponen neraca barang yang mencatatkan surplus sebesar US$4,39 miliar, lebih dari kuartal IV/2019 yang hanya surplus sebesar US$309 juta.

Defisit dari komponen neraca jasa juga menciut dari US$2,01 miliar pada kuartal IV tahun lalu menjadi US$1,87 pada kuartal I/2020.

Hal ini disebabkan oleh menurunnya defisit jasa transportasi karena turunnya kegiatan impor  pada kuartal I/2020.

"Penurunan defisit jasa transportasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan surplus jasa travel meski terjadi penurunan pada kunjungan wisman tahun ini," kata Andry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit transaksi berjalan neraca pembayaran
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top