Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

MIND ID : Proyek Smelter Freeport Tertunda

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan saat ini pembangunan tengah terhambat akibat adanya pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, MIND ID sebagai stakeholders akan mengadakan pertemuan dengan Kementerian BUMN.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  14:34 WIB
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Induk usaha industri pertambangan MIND ID menyebut proyek pembangunan smelter Freeport di Gresik terganggu oleh virus corona atau Covid-19.

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan saat ini pembangunan tengah terhambat akibat adanya pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, MIND ID sebagai stakeholders akan mengadakan pertemuan dengan Kementerian BUMN.

“Saat ini sedang membangun namun ada virus corona maka ada ajuan penundaan pembangunan. Ini yang akan kami bahas sepertinya akan ada kebijakan umum karena kontraktor juga susah untuk membangun,” katanya pada Jumat (15/5).

Orias menambahkan produksi emas Freeport Indonesia mengalami peningkatan pada kuartal I/2020. Namun dia belum bisa memberikan detil pasti perubahan. Peningkatan, lanjutnya, disebabkan oleh karantina mandiri yang kini tengah dilakukan.

“Para pekerja tidak bisa pergi dari site karena sedang zona merah. Jadi kalau mereka pergi harus dikarantina 14 hari. Itu sepertinya yang menyebabkan produksi naik,” imbuhnya.

Menurutnya PT Freeport Indonesia akan membagikan dividen 100 pada 2023 sedangkan untuk 2021 hanya sekitar 70 persen. Orias mengatakan pada momen itu cashflow MIND ID akan berada dalam kondisi stabil.

Dalam jangka tiga tahun MIND ID menargetkan bisa mengurangi rasio utang terhadap EBITDA dari posisi 7,5 kali menjadi 5 kali atau bahkan di bawahnya. Orias menilai dengan tingkat utang di level tersebut artinya perusahaan sudah dalam posisi aman.

“Saat Freeport bagi deviden 70 persen pada 2021, EBITDA kami akan membaik. Namun pembayaran penuh pada 2023 akan membuat leverage kami rendah dan peringkat akan membaik. Rasio ini akan kami turunkan,” katanya.

Pada momen itu, sisa dari global bond yang diterbitkan pada 2018 tersisa sekitar US$1,75 miliar dengan jatuh tempo 2028 dan 2048. Orias yakin perseroan akan memiliki dana yang cukup untuk melunasi utang sebelum jatuh tempo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Freeport inalum holding bumn Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top