Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Ajukan Utang Baru US$250 Juta Kepada Bank Pembangunan Islam (IsDB)

Sri Mulyani menyebutkan komitmen utang sebesar US$200 juta - US$250 juta didapatkan setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden IsDB Bandar Hajjar.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 April 2020  |  12:03 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi terkini perekonomian Indonesia dalam sebuah teleconference, Jumat (17/4) - Kementerian Keuangan (Screenshoot)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi terkini perekonomian Indonesia dalam sebuah teleconference, Jumat (17/4) - Kementerian Keuangan (Screenshoot)

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia akan menarik pinjaman baru dari Bank Pembangunan Islam (IsDB) senilai US$200-250 juta.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan penarikan pinjaman ini tengah dinegosiasikan. Utang yang ditarik berasal dari program 3R IsDB. 3R merupakan singkatan dari respons, restore, dan restart.

"Dana darurat COVID-19 dari IsDB dalam proses negosiasi berkisar antara 200-250 juta dolar AS," kata Sri Mulyani yang dilansir Antara, Senin (27/4/2020).

Sri Mulyani menyebutkan komitmen pinjaman dari IsDB didapatkan dari pembicaraan virtual dengan presiden lembaga itu, Bandar Hajjar. Pembicaraan itu awalnya membicarakan mengenai langkah pemerintah dalam bidang kesehatan, bantuan sosial, maupun insentif dunia usaha.

Dalam kesempatan itu ia memastikan IsDB akan memberikan pinjaman bersama dengan lembaga multilateral lain seperti Bank Dunia dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) untuk mengatasi virus corona atau Covid-19

"IsDB meluncurkan program 3 R (Respons, Restore, Restart)," kata Sri Mulyani.

Sebelumnya pemerintah memastikan akan mengandalkan pinjaman dari lembaga multilateral untuk mendukung pembiayaan berbagai program stimulus.

Namun pembiayaan dari lembaga multilateral ini bukan merupakan langkah mendesak yang akan dimanfaatkan untuk penanganan virus corona. Langkah yang paling utama dilakukan pemerintah adalah melakukan sejumlah realokasi atau refocusing belanja APBN yang tidak mendesak seperti perjalanan dinas atau pertemuan rapat.

Selain itu pemerintah juga akan mengandalkan pembiayaan penerbitan surat utang seperti pandemic bonds untuk mendukung pelebaran defisit anggaran.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang kemenkeu sri mulyani utang negara

Sumber : Antara

Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top