Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank of Japan Janjikan Program Pembelian Obligasi Tanpa Batas

Bank of Japan menghapus batasan pembelian obligasi pemerintah dalam ekspansi stimulus moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menekan dampak virus corona terhadap perekonomian.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 April 2020  |  11:33 WIB
Bank of Japan - REUTERS
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Bank of Japan (BOJ) menghapus batasan pembelian obligasi pemerintah dalam ekspansi stimulus moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menekan dampak virus corona terhadap perekonomian.

Dalam pernyataannya pada Senin (27/4), Bank sentral Jepang ini juga meningkatkan ruang lingkup pembelian obligasi korporasi dan surat berharga dengan menaikkan plafon menjadi 20 triliun yen.

Sebelumnya, BOJ telah meningkatkan program pembelian obligasi ini sebesar sekitar 80 triliun yen (US$743 miliar) per tahun.

Dengan kebijakan ekstra yang difokuskan pada mendukung banyak perusahaan yang tengah berjuang dengan bantuan pembiayaan, BOJ mempertahankan target suku bunga jangka pendek dan jangka panjangnya. Kembalinya stabilitas relatif di pasar saham dan berkurangnya kekhawatiran atas kemungkinan penguatan tiba-tiba yen telah memberi BOJ ruang untuk tidak mengubah kebijakan suku bunga utamanya.

Stimulus tambahan ini telah diperkirakan 59 persen ekonom yang disurvei Bloomberg. BOJ telah berada di bawah tekanan untuk mengambil tindakan lebih lanjut karena deklarasi keadaan darurat nasional bulan ini menyebabkan lebih banyak penutupan bisnis.

BOJ juga melihat perlunya mengambil tindakan sebelum pertemuan The Fed dan Bank Sentral Eropa akhir pekan ini, agar tidak terlihat ketinggalan langkah dari bank sentral lainnya.

Langkah-langkah tambahan yang diumumkan oleh Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda juga menunjukkan tingkat koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang lebih besar. Sebelumnya, Perdana Menteri Shinzo Abe meluncurkan stimulus fiskal senilai lebih dari US$1 triliun bulan ini dan untuk menerbitkan lebih banyak obligasi.

"BOJ harus agresif karena situasi virus di Jepang semakin memburuk," ungkap Yoshimasa Maruyama, kepala ekonom pasar di SMBC Nikko Securities, sebelum keputusan BOJ hari ini.

"BOJ akan terus berjalan dalam rentang yang ketat dengan beberapa alat kebijakan yang tersisa,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Pejabat BOJ masih ingat atas kritik sebelumnya karena gagal bertindak cukup selama krisis keuangan dan menyebabkan yen menguat, yang akhirnya menyebabkan perubahan kepemimpinan yang membawa Kuroda ke pucuk pimpinan pada tahun 2013.

Keputusan hari Senin mengisyaratkan bahwa kekhawatiran BOJ terhadap pandemi telah meningkat dengan cepat. Pembelian obligasi tanpa batas bukanlah pilihan ideal untuk diambil dalam pandangan beberapa pejabat, karena semakin mempersempit pilihan kebijakan bank pada saat meningkatnya ketidakpastian.

Namun, masih dipertanyakan bagaimana keputusan ini akan benar-benar mengubah pembelian obligasi BOJ. Program kontrol kurva imbal hasil saat ini tidak memerlukan lonjakan pembelian selama yield obligasi 10-tahun tetap di sekitar 0 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi bank of japan

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top