Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Shell Tergiur Seksinya Pasar Pelumas Nasional

Belum lama ini, perusahaan asal Belanda yang melantai di bursa Inggris ini, meresmikan rencana ekspansi bisnis pabrik pelumasnya di Marunda.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 28 Maret 2020  |  01:48 WIB
Karyawan menggunaan helm berlogo Shell di fasilitas pencampuran pelumas di Rusia (7/2/2018). Bloomberg - Andrey Rudakov
Karyawan menggunaan helm berlogo Shell di fasilitas pencampuran pelumas di Rusia (7/2/2018). Bloomberg - Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar pelumas nasional yang diperkirakan bertumbuh berkisar 3 persen - 4 persen per tahun dimanfaatkan betul oleh para produsen untuk meningkatkan porsi penjualan.

Salah satunya Shell Indonesia. Belum lama ini, perusahaan asal Belanda yang melantai di bursa Inggris ini, meresmikan rencana ekspansi bisnis pabrik pelumasnya di Marunda.

Shell Indonesia meningkatkan kapasitas fasilitas produksi pelumas Lubricant oil blending plant (LOBP) menjadi 300.000 Kilo liter (KL) per tahun. Dengan ekspansi ini, Shell mengklaim bahwa mereka punya pabrik pelumas dengan kapasitas salah satu yang terbesar.

President Director and Country Chair Shell Indonesia Dian Andyasuri menjelaskan investasi pabrik pelumas yang ada merupakan penanaman modal terbesar di Asia Tenggara. “Saya tidak menyebut nilai investasinya, tapi jelas investasi ini menggambarkan pentinggnya Indonesia,” katanya, belum lama ini.

Menurutnya, dari potensi permintaan pasar yang ada ditambah dengan pertumbuhan sektor industri pengguna pelumas, menjadi alasan Shell meningkatkan kapasitas produksi LOBP Marunda.

Dari sisi kemampuan produksi, Shell LOBP Marunda telah memproduksi lebih dari 120 SKU (stock keeping unit) untuk memenuhi permintaan pelumas dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan pelumas dalam negeri mencapai 1,14 juta kilo liter per tahun, sementara kapasitas terpasangnya mencapai mencapai 2,04 juta KL per tahun.

Serapan kebutuhan pelumas nasional terdistribusikan ke sektor otomotif mencapai 781.000 KL, sementara sektor industri sebesar 127.000 KL.

Adapun pelumas yang diproduksi di dalam negeri sebesar 908.360 KL. Saat ini, terdapat 44 perusahaan produsen pelumas di dalam negeri, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 3.157 orang.

Dian mengatakan pertumbuhan pasar pelumas di Indonesia terjadi di setiap wilayah, tetapi konsumsi terbesar memang datang dari Pulau Jawa. “Komersialisasinya [ekspansi pabrik] 2 tahun, saya berharap bisa lebih cepat dari itu. Prioritas kami untuk melayani pangsa domestik,” tambahnya.

Melihat potensi di Indonesia, Shell melihat pasar pelumas nasional memiliki pertumbuhan paling penting bersama China dan India dan pasar dengan permintaan pelumas terbesar di Asia Tenggara.

Secara global, Indonesia menjadi salah satu dari 10 pasar permintaan pelumas terbesar, tertinggi kelima di Asia setelah China, India, Jepang & Korea Selatan.

Selain itu, bisa jadi ekpansi bisnis pelumas Shell di Indonesia mengacu pada indeks kemudahan berusaha Indonesia (Ease of Doing Business) yang mengalami kenaikan. Dalam laporan Doing Business 2020 yang dirilis Bank Dunia (World Bank/WB), Indonesia meraih  indeks 69,6 atau naik 1,64 dibandingkan dengan tahun lalu.

Merujuk pada Laporan Keuangan Royal Dutch Shell 2019, kinerja penjualan produk minyak memang penuh tantangan. Tahun lalu, total penjualan produk minyak Shell sebesar 6,56 juta barel per hari, sementara tahun sebelumnya sebesar 6,78 juta barel.

Sayangnya dalam laporan kinerja tersebut, tidak dijelaskan pertumbuhan bisnis pelumas secara khusus.

Di sisi lain, Executive Vice President Global Commercial Royal Dutch Shell Carlos Maurer mengatakan perluasan pabrik pelumas Shell dapat diartikan sebagai respons positif terhadap pasar Indonesia.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan strategi kami untuk berinvestasi di pasar-pasar yang menunjukkan peningkatan permintaan terhadap pelumas.

“Keputusan investasi yang kami lakukan merupakan jangka panjang, dan ekspansi yang kami lakukan mendukung pertumbuhan bisnis yang ada,” tambahnya.

Dalam investasi jangka panjang, Shell memperhatikan pertumbuhan bisnis otomotif, mesin industri dan pertambangan. Carlos menyebut, ekspansi bisnisnya akan sepenuhnya mendukung bisnis pelumas nasional.

Di Indonesia, Shell tidak hanya fokus di bisnis hilir migas, saat ini Shell juga memiliki hak partisipasi di Blok Masela sebesar 35 persen. Blok Masela diproyeksi berproduksi pada 2026.

Sebelumnya, Shell meresmikan LOBP Marunda di area seluas 7,5 hektare (Ha) dengan kapasitas produksi 136.000 KL pelumas setiap tahunnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shell pelumas Features
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top