Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Perkantoran Diprediksi Membaik pada 2021. Ini Alasannya

Meski dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat, tetapi konsultan properti memprediksi pasar perkantoran pada 2021 akan mengalami perbaikan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  15:48 WIB
Sejumlah gedung bertingkat di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Abdurachman
Sejumlah gedung bertingkat di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah beragam ketidakpastian yang dapat mempengaruhi pasar properti, pasar perkantoran justru diperkirakan akan mendapat angin segar seperti pertambahan tingkat okupansi lantaran tambahan pasok yang menipis dan tawaran harga yang lebih menarik.

Director and Strategic Consulting Cushman and Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan bahwa menipisnya pertumbuhan pasok ruang kantor di Jakarta tahun ini akan menciptakan pasar properti perkantoran yang lebih sehat.

Berdasarkan laporan Cushman and Wakefield Indonesia sejak 2015, pasar perkantoran terutama di area pusat bisnis CBD Jakarta sudah dibanjiri pasokan dengan tambahan ruang baru sebanyak 2,2 juta meter persegi.

Hal ini memicu kondisi pasokan berlebih (oversupply) hingga akhir 2018. Namun, lonjakan pasok itu mulai berkurang ketika memasuki 2019, dari tambahan sekitar 500.000 meter persegi per tahun menjadi hanya 290.000 meter persegi per tahun.

“Tren ini diperkirakan masih akan berlanjut dengan tambahan hanya 300.000 meter persegi per tahun hingga dua tahun ke depan,” ungkap Arief melalui laporan tertulis, dikutip Bisnis, Kamis (26/3/2020).

Arief melanjutkan, dari segi lokasi, Thamrin dan Kuningan tercatat menjadi pasar yang paling aktif dengan banyaknya pengembangan baru di dua wilayah tersebut. Thamrin dan Kuningan menyumbang 70 persen dari keseluruhan tambahan perkantoran baru di CBD Jakarta untuk 2021 – 2022.

“Dengan tingkat pasokan yang masih tinggi dan ketidakpastian seperti wabah Covid-19, tingkat okupansi perkantoran di Jakarta kemungkinan akan menurun di tahun ini, tapi akan secara bertahap membaik pada 2021 mendatang,” ujarnya.

Permintaan ruang kantor di CBD Jakarta diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan sepanjang 2020 dengan proyeksi serapan hanya sekitar 50.000 meter persegi. Sementara itu, untuk 2021 diperkirakan akan ada tambahan serapan sebanyak 280.000 meter persegi.

“Relokasi dan ekspansi dari tenant yang sudah ada akan mendorong tingkat serapan dalam dua tahun ke depan. Dari sisi sektor bisnis, perbankan dan layanan keuangan seperti asuransi, perusahaan dagang elektronik, dan co-working space akan menjadi penyumbang serapan terbanyak,” kata Arief.

Menanggapi kasus wabah Covid-19, Managing Director Cushman and Wakefield Indonesia David Cheadle menambahkan bahwa hal ini akan memperparah tingkat permintaan properti perkantoran yang melemah tahun ini.

“Perkantoran terutama yang strata title juga akan mengalami penurunan penjualan dengan kondisi seperti ini,” ungkap Cheadle.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti perkantoran Virus Corona
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top