Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Sawit Tertekan Wabah Corona dan Gejolak Politik Global

Meningkatnya gejolak politik antarnegara di dunia dan mewabahnya virus corona, membuat permintaan terhadap minyak kelapa sawit mentah dan turunannya mengalami koreksi pada awal 2020.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  15:41 WIB
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati mengalami perbaikan dari sisi harga, ekspor produk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan sejumlah produk turunannya justru mengalami penurunan pada awal tahun ini.

Berdasarkan laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pada Januari 2020 ekspor CPO mengalami penurunan menjadi 2,39 juta ton dari 3,72 juta ton pada Desember 2019, atau turun 35,6 persen.  Penurunan ekspor juga terjadi pada palm kernel oil (PKO) dan biodiesel,  sementara oleokimia naik dengan 22,9 persen.   

“Penurunan ekspor terjadi hampir  ke semua negara tujuan,” ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sarjono dalam siaran persnya, Kamis (26/3/2020).

Gapki mencatat ekspor ke China pada Januari 2020, turun 381.000 ton dari bulan sebelumnya. Sementara itu pada periode yang sama, ekspor ke Uni Eropa turun 188.000 ton, India turun 141.000 tn dan ke Amerika Serikat turun 129.000 ton.

Adaapun kenaikan ekspor secara bulanan pada Januari 2020  tercatat pada pengiriman ke Bangladesh, yang naik  40.000 ton.

“Penurunan ekspor yang cukup drastis pada Januari diperkirakan karena masih tersedianya stok di negara-negara importir utama, atau importir  menunggu respon pasar terhadap program  B30 yang diterapkan Indonesia,” lanjut Mukti.

Di sisi lain situasi politik-ekonomi dunia akhir-akhir ini dan harga minyak bumi yang tidak menentu karena buntunya sepakatan antara OPEC juga dinilai sebagai penyebab turunnya konsumsi global terhadap produk minyak sawit.

Kondisi itu diperparah pula oleh wabah corona yang melanda hampi seluruh dunia. Mukti melanjutkan, wabah corona yang diperikirakan berlangsung hingga lebaran dan secara global puncak pademi terjadi pada Mei-Juni 2020,  dikhawatirkan akan menekan harga minyak nabati termasuk minyak sawit.

Adapun, berdasarkan laporan Gapki pada Januari 2020 rata-rata harga CPO Cif Rotterdam adalah US$830/ton sementara pada Desember 2019 adalah US$787.  Pemulihan harga CPO ini diharapkan menjadi penyemangat bagi pekebun dan perusahaan perkebunan untuk memelihara kebun dengan lebih baik agar mendapatkan produktivitas yang tertinggi.

Produksi CPO pada Januari 2020 tercatat mengalami kenaikan dibandingkan dengan produksi Desember 2019 yaitu 3,48 juta ton dibanding dengan 3,45 juta ton.  Konsumsi domestik juga mengalami kenaikan dari 1,45 juta ton pada Desember 2019  menjadi 1,47 juta ton pada Desember 2020. sawit.

“Beberapa bulan lagi kita akan masuk ke musim kemarau 2020 dan kebakaran hutan dan lahan menjadi momok yang menakutkan.  Pembukaan lahan dengan sistem bakar oleh masyarakat harus dapat dihindari, meskipun peraturan perundangan masih memungkinkan untuk pembukaan lahan di bawah 2 hektar,” lanjut Mukti

Untuk itu perusahaan perkebunan perlu memperkuat kembali koordinasi dengan instansi terkait dan memeriksa kesiapan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran yang dimiliki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo sawit ekspor cpo
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top