Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Proyek Listrik Mundur, Industri Kabel Ikut Loyo

Sebenarnya, dalam lima tahun terakhir, cukup banyak proyek transmisi dan distribusi PLN, termasuk untuk memperluas elektrifikasi.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  16:00 WIB
Pekerja memasang jaringan kabel ke tower milik PT PLN yang akan dialiri listrik dari PLTU IPP 3 Kendari, di Desa Pousu Jaya, Konda, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (7/11/2018). - Antara/Jojon
Pekerja memasang jaringan kabel ke tower milik PT PLN yang akan dialiri listrik dari PLTU IPP 3 Kendari, di Desa Pousu Jaya, Konda, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (7/11/2018). - Antara/Jojon

Bisnis.com, JAKARTA —Sejumlah keterlambatan proyek kelistrikan dan aktivitas perekoniman yang tidak stabil menjadi faktor penyebab industri perkabelan tidak bergairah tahun ini.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan industri kabel pada kondisi normal tumbuh di kisaran 10 persen, tetapi 70 persen-80 persen pasar adalah proyek PLN baik transmisi dan distribusi. Sisanya atau sekitar 20 persen-30 persen dari proyek bukan PLN.

Sementara dalam lima tahun terakhir, cukup banyak proyek transmisi dan distribusi PLN, termasuk untuk memperluas elektrifikasi.

"Dengan menimbang bahwa proyek-proyek pembangkit 35.000 megawatt ada yang mengalami keterlambatan, serta kondisi ekonomi yang kurang stabil ditambah kondisi finansial PLN yang juga tidak terlalu sehat, serta efek Covid-19. Sepertinya PLN akan ada penjadwalan ulang sejumlah proyeknya," katanya kepada Bisnis, Kamis (19/3/2020).

Fabby memperkirakan penjadwalan ulang proyek juga akan terjadi untuk proyek swasta. Untuk itu, jika industri kabel masih bisa mempertahankan kinerja pertumbuhannya 10 persen tentu sudah cukup bagus.

Namun, Fabby lebih mengantisipasi industri hanya akan naik di bawah 10 persen. Apalagi, pabrikan kabel juga bertambah sejak periode 2018 hingga tahun lalu.

Menurut Fabby, sebagian besar bahan baku kabel saat ini juga masih diimpor, khususnya tembaga dan aluminium. Harga keduanya pun sejak awal 2020 lebih rendah dari tahun lalu. Alhasil, seharusnya harga bahan baku kabel bisa lebih rendah.

"Saat ini tentu kita lihat ada juga penguatan nilai mata uang dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah. Jadi mungkin dari sisi nilai impor akan lebih rendah tetapi harga jual domestik bisa lebih tinggi, kalau dolar terus menguat," ujar Fabby.

Prinsipnya, lanjut dia, jika kontrak-kontrak yang sudah dibuat tahun lalu, mestinya sudah langsung jalan tetapi untuk kontrak yang dibuat tahun ini, produsen mesti hitung dengan cermat karena pasar komoditas dan nilai tukar tidak stabil.

Sementara terkait efisiensi, Fabby melanjutkan, pelaku industri bisa saja paling tidak bisa menjaga kapasitas minimum produksi sehingga perusahaan tidak merugi dalam tekanan kondisi saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik kabel
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top