Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asosiasi Belum Bisa Prediksi Ekspor Garmen Kuartal I/2020

Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil pada akhir 2019 turun 2,87 persen dari US$13,22 miliar menjadi US$12,84 miliar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Maret 2020  |  21:06 WIB
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). - Bisnis/Arief Hermawan
Pedagang menata kain tekstil di pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (11/2/2020). - Bisnis/Arief Hermawan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan penurunan pos tarif garmen pada Februari disebabkan oleh majunya tahun baru Imlek. Alhasil, sebagian pabrikan garmen berorientasi ekspor kesulitan mendapatkan kain dari Negeri Panda pada Februari.

Sekretaris Jenderal API Rizal Rakhman mencatat tren neraca industri TPT terakhir adalah melebarnya nilai surplus neraca TPT. Namun demikian, Rizal belum dapat meramalkan pertumbuhan ekspor garmen pada kuartal I/2020.

"Kami harus optimistis, tetapi belum bisa diprediksi [pertumbuhannya seperti apa pada kuartal I/2020]. Tren terakhir impor turun, [tetapi] ekspor juga turun," ujarnya.

Rizal mendata nilai ekspor TPT pada akhir 2019 turun 2,87 persen dari US$13,22 miliar menjadi US$12,84 miliar. Adapun, impor TPT turun lebih dalam sebesar 6,48 persen menjadi US$9,37 miliar. Penurunan ekspor dan impor tersebut justru membuat surplus neraca perdagangan TPT naik 8,43 persen menjadi US$3,47 miliar.

Selain itu, kontribusi industri TPT ke ekpor nasional dan ekspor non migas masing-masing naik menjadi 7,7 persen dan 8,3 persen. Namun demikian, kontribusi pabrikan TPT ke neraca nasional pada tahun lalu turun ke level 56,4 persen dari posisi tahun sebelumnya di level 79,9 persen.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dua artikel industri TPT tumbuh minus secara tahunan pada Januari-Februari 2020. Kedua artikel tersebut adalah alas kaki yang turun 4,75 persen dan pakaian dan aksesorisnya (rajutan) yang merosot 12,33 persen.

"Semester I/2020 ini agak berat karena kebanyakan [pabrikan] garmen kita [berada di] kawasan berikat. Yang di lokal, volume impor pakaian jadi dari Banglades mulai meningkat. Jadi, memang ini dampak [wabah corona] harus dicermati dengan benar," katanya.

Rizal menyatakan sisi positif yang dapat diambil dari wabah corona di China adalah penngkatan utilitas pabrikan kain. Pasalnya, lanjutnya, serapan bahan baku lokal oleh pabrikan garmen berorientasi domestik meningkat.

Namun demikian, Rizal masih belum dapat meramalkan pertumbuhan produksi industri TPT nasional. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh kondisi perekonomian nasional dan global yang masih labil.

"Teman-teman pabrikan masih menahan [proyeksi pertumbuhan] soalnya statemen [asosiasi] bisa jadi pemicu. Kondisi ini bertubi-tubi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil garmen
Editor : Annisa Sulistyo Rini
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top