Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Arif Budisusilo

Arif Budisusilo

Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia
email Lihat artikel saya lainnya

NGOBROL EKONOMI: Coronomy, Global Chaos, dan Kecemasan Kita

Terus terang, saya cemas terhadap ketidaksiapan pemerintah Indonesia, mengatasi kecemasan publik yang pelan tapi pasti, makin merangkak naik akibat wabah virus Corona belakangan ini.
Bisnis.com - 13 Maret 2020  |  13:33 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri) bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri), Ketua OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) memberikan keterangan terkait Stimulus Kedua Penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2020). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri) bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri), Ketua OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) memberikan keterangan terkait Stimulus Kedua Penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3/2020). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bloomberg edisi 11 Maret menerbitkan berita pendek. Isinya menarik. Judulnya: Coronavirus Conference Gets Canceled Because of Coronavirus.

Sumpah, memang begitu judulnya. “Konferensi Virus Corona Dibatalkan Gara-gara Virus Corona”. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya.

Biar dapet konteksnya, saya coba ceritakan ulang berita Bloomberg tersebut.

Kita tahu, sejalan dengan merebaknya wabah Corona, begitu banyak upaya dilakukan untuk menjaga agar bisnis tetap bergulir selama pandemi virus ini.

Termasuk aneka konferensi bisnis, guna membahas langkah yang perlu diambil agar bisnis tetap berjalan.

Itu pula yang dilakukan Dewan Hubungan Luar Negeri (CFR) Amerika Serikat. Namun, konferensi CFR yang disebut “Doing Business Under Coronavirus”, yang sedianya dijadwalkan Jumat ini di New York, dibatalkan. Ini lantaran wabah Corona itu sendiri.

Bukan cuma itu. CFR juga membatalkan konferensi lainnya yang dijadwalkan dari 11 Maret hingga 3 April di New York dan Washington. Juga acara nasional di sekitar AS.

Event CFR itu bagian daftar panjang pertemuan yang dibatalkan atau ditunda, termasuk pameran mobil tahunan New York.

Event lainnya di New York juga dalam pengawasan ketat, karena eskalasi kasus Corona di kota itu. Garda Nasional dikirim untuk membantu menutup ruang pertemuan publik di kota New York guna memperlambat penyebaran wabah.

Di seluruh AS, penyebaran virus telah meredam lebih dari 50 acara besar, dengan perkiraan kehadiran hampir 1 juta orang. Ini angka statistik yang dikumpulkan Bloomberg.

Di belahan dunia lain begitu rupa. Italia telah menyatakan menutup diri (lockdown) dari mobilitas global. Langkah Italia lalu disusul oleh Denmark. Kedua negara di Eropa itu tidak ingin wabah Corona menjadi kian menyebar.

Giliran berikutnya adalah Presiden Filipina Duterte, yang mengumumkan lockdown Ibukota negara, Manila.

Beberapa jam sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mengumumkan, Washington melarang tegas lalu lintas orang dari Eropa ke Amerika.

Inggris dikecualikan oleh Presiden Trump, entah mengapa. Untuk sekadar joke, mungkin karena Inggris sudah tidak menjadi bagian dari Eropa gara-gara Brexit.

Indonesia juga sudah melarang masuk turis China. Kemudian disusul larangan serupa untuk turis Italia, Iran dan Korea Selatan. Sampai kolom ini saya tulis, belum ada perkembangan baru, apakah Indonesia juga akan menutup akses perjalanan dari sejumlah negara Eropa lainnya, menyusul Italia.

Yang pasti, di Indonesia, beberapa event konferensi bisnis juga dibatalkan atau ditunda. Balapan Formula E yang sedianya digelar di Jakarta dalam waktu dekat, resmi dijadwal ulang.

Saya sendiri sempat menghadiri sebuah konferensi bisnis yang ‘terpaksa’ diteruskan, Rabu (11 Maret), dengan protokol pengawasan yang lumayan ketat.

Ada pengecekan suhu badan. Juga ada prosedur “cuci tangan” yang kini kembali “diajarkan”. Seperti tengah memulai peradaban baru.

Bahkan peserta sempat dian­jur­kan untuk tidak berjabat tangan, meski kemudian kami—para peserta—banyak melanggarnya.

***

Dunia memang tampak panik. Apalagi pada Rabu pekan ini, status wabah Corona memasuki babak baru. WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan Covid-19 -nama resmi wabah Corona- telah menjadi pandemi global.

Artinya, virus Corona baru itu telah menyebar cepat ke seantero jagat. Hanya dalam tiga bulan.

Data resmi hingga Jumat (13/3) menyebutkan, lebih dari 139.000 orang telah terpapar virus Corona. Mereka tersebar di sedikitnya 51 negara dari Asia hingga Timur Tengah, mulai dari Eropa hingga Amerika Serikat.

WHO mencatat dalam dua minggu terakhir, jumlah kasus di luar China telah meningkat tiga belas kali lipat. Jumlah negara yang terkena dampak telah meningkat tiga kali lipat.

Indonesia sendiri, merujuk data hingga Jumat (13/3)  telah mencatatkan 69 kasus Covid-19, dan 4 di antaranya meninggal.

Menurut catatan WHO, beberapa negara telah mampu menekan dan mengendalikan wabah. Namun beberapa negara lain dinilai gagal bertindak cepat untuk menahan penyebaran.

Secara kontradiktif, ada tingkat penyebaran dan keparahan yang mengkhawatirkan. Sebaliknya tingkat kelambanan dalam menanganinya juga mengkhawatirkan.

Status pandemi global itu tentu menjadi biang “global panick” tambahan.

Bahkan sebelum status pandemi global itu diumumkan pun, sesungguhnya warga dunia sudah dalam bayang-bayang kecemasan dan ketakutan.

Di sejumlah negara, saat pemerintah secara resmi mengumumkan kasus positif Corona, terjadi rush pembelian barang. Rush barang tidak hanya terjadi di Asia, bahkan juga Eropa, Amerika dan Australia.

Di Jakarta sempat terjadi rush saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama positif Covid-19. Hari-hari ini, kecemasan tampak meluas di Indonesia terkait wabah itu.

Dengan kata lain, virus Corona telah memicu chaos sejagat.

Tentu dampak ekonominya sangatlah besar.

Coba deh lihat mulai dari chaos global  di pasar keuangan. Mulai dari kurs mata uang hingga pasar saham.

Di Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Jumat ini kembali diuji untuk masuk kembali ke level Rp15.000-an, meski akhirnya gagal.

Sebelumnya pasar saham bahkan bereaksi paling cepat.

Lihat saja, Indeks Dow Jones dalam sebulan terakhir sudah jatuh lebih dari 25%. Pada Kamis(12/3), Indeks Dow turun 10% ke posisi 21.000-an. Penurunan terburuk dalam satu sesi perdagangan sejak 1987.

IHSG di Jakarta juga anjlok ke titik terlemah semenjak tahun 2015 silam. Pada Kamis, IHSG ditutup pada posisi 4.895,75, dan berlanjut anjlok lagi pada Jumat siang di posisi 4.649,97, alias turun lagi 5% dari penutupan Kamis.

Indeks Nikkei dan Hang Seng juga babak belur. Begitu pula pasar saham Eropa. Semuanya berantakan.

***

Bicara ekonomi dunia, cara saya memahami sederhana saja. Perputaran ekonomi pada dasarnya digerakkan oleh mobilitas. Ini bisa mobilitas manusia, mobilitas barang dan mobilitas jasa dan teknologi.

Itulah makanya ada globalisasi. Mobilitas itulah yang men-drive konsumsi, perdagangan, pari­wisata, sektor ritel, dan investasi. Juga pro­duksi dan distribusi. Pun logis­tik. Itu cara saya memahami jejaring ekonomi yang sebenarnya sederhana.

Maka, tatkala banyak negara kemudian menutup diri, atau melarang warganya bepergian ke wilayah negara lain, maka pergerakan manusia dan barang menjadi sangat terbatas.

Mobilitas global nyaris terhenti. Lihat saja, banyak airport sekarang sepi. Armada pesawat Cathay Pacific banyak yang parkir menganggur di bandara. Begitu pula Singapore Airlines. Kerugian uang tak terkira.

Itu baru airlines saja. Belum aktivitas ekonomi lainnya yang mandek. Hotel-hotel sepi. Pusat perbelanjaan kosong. Menurut laporan, travel biro di Batam dengan 150 karyawan sudah tak sanggup lagi beroperasi lantaran turis China sepi.

Di Arab Saudi, ibadah umrah pun ditang­guh­kan. Bisa dibayangkan, berapa besar perputaran uang yang terhenti karenanya, termasuk dari biro umrah Indonesia. Gara-gara takut tertular virus Corona.

Deretan mobilitas yang terhenti masih panjang. Artinya, bila berkepanjangan, wa­bah Corona akan menjadi varia­bel utama kelesuan ekonomi dunia. Dengan kata lain, faktor pemicu yang bikin ekonomi lesu bukanlah faktor-faktor teknikal atau fundamental, tetapi justru wabah “influenza jenis baru”.

Saya jadi ingat sebuah buku berjudul The Death of Economics, yang ditulis oleh Paul Ormerod tahun 1994.

Paul, sang penulis, adalah ekonom Inggris. Ia banyak memberi perhatian dan penelitian mengenai isu-isu kompleksitas dan ketidakpastian. Ia juga meneliti siklus boom dan bust dari persaingan bisnis dan ekonomi.

Ormerod menggunakan pendekatan multidisiplin, memanfaatkan biologi, fisika, matematika, statistik, dan psikologi sebagai sumber hasil yang dapat diterapkan pada ekonomi.

Paul juga pernah diwawancara dalam film dokumenter BBC. Judulnya High Anxieties-The Ma­thematics of Chaos. Film ter­sebut berkisah tentang ketidak­pas­tian dalam ekonomi dan lingkungan.

Maka, dalam konteks hari-hari ini, teori ekonomi telah mati oleh virus Corona. Virus yang secara resmi diberi nama Covid 2019—kependekan dari Corona Virus Disease 2019— itu menjungkirbalikkan prediksi teknikal dan fundamental para ekonom dunia.

Tak ada yang semula mem­prediksi ekonomi global tahun ini akan terdisrupsi sadis oleh serangan virus.

Dan kini hal itu terjadi.

Lantas banyak negara merancang formula “Coronomy”. Tiba-tiba, kini banyak pemerintahan yang menggelontorkan stimulus pajak. Juga penurunan suku bunga.

Ini dimulai Selasa (3/3) lalu, tatkala The Fed ujug-ujug memangkas suku bunga secara drastis untuk membantu ekonomi dan meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis. Fed diperkirakan akan kembali memangkas bunga pada rapat rutin kebijakan berikutnya.

Bahwa ada yang mempersoalkan efektivitas penurunan suku bunga itu, adalah soal lain. Yang pasti, Presiden Donald Trump akan kembali meminta Menteri Keuangan Steven Mnuchin untuk mendorong Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbuat lebih banyak lagi.

Namun bursa saham AS justru terus memimpin kejatuhan bursa saham global selama pekan terakhir. Indeks Dow bahkan menyala semakin merah.

Pasalnya, investor justru kha­watir bahwa tindakan global untuk menghentikan penyebaran pan­demi Corona, termasuk lockdown me­nutup diri dari mobilitas manusia dan barang, dapat mendorong dunia jatuh ke dalam resesi.

Tiga bulan silam, nyaris tak ada ekonom menyebut Corona sebagai faktor resesi global. Kini, virus “influenza” itu menjadi faktor paling mencemaskan masyarakat global, bahwa dunia berisiko mengalami resesi.

Maka, sebenarnya, yang perlu dicemaskan adalah rasa cemas itu sendiri.

Dan terus terang, saya cemas terhadap ketidaksiapan pemerintah Indonesia, mengatasi kecemasan publik yang pelan tapi pasti, makin merangkak naik belakangan ini.

Juga cemas, karena belum terlihat tanda-tanda kesigapan dalam mengatasi kesulitan daya beli kebanyakan masyarakat yang terdampak langsung, akibat melorotnya aktivitas ekonomi.

Nah, bagaimana menurut Anda?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Ngobrol Ekonomi
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top