Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Salah Kaprah! Ini Fakta-Fakta soal Indonesia Dikeluarkan dari List Negara Berkembang AS

Dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat memunculkan berbagai macam respons dan komentar. Banyak di antaranya salah kaprah. Berikut fakta-faktanya.
Presiden Joko Widodo berjalan, di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019)./Istimewa
Presiden Joko Widodo berjalan, di sela-sela menghadiri KTT G20, di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019)./Istimewa

Kriteria Baru Negara Berkembang Versi USTR

Amerika Serikat memperketat kriteria negara berkembang yang berhak mendapatkan pengecualian de minimis dari pengenaan tarif antisubsidi (countervailing duty/CVD).

Berdasarkan kriteria baru, United States Trade Representatives (USTR) mengeluarkan 15 negara berkembang—di antaranya Indonesia, Argentina, Brasil, Thailand, dan India—dari pengecualian tersebut.   

Indonesia dikeluarkan dari pengecualian itu karena keanggotaan dalam G-20 dan memiliki share lebih dari 0,5 persen perdagangan dunia.

USTR menerapkan tiga kriteria baru bagi negara berkembang yang dianggap telah cukup maju dan dikeluarkan dari pengecualian de minimis.

Pertama, negara berkembang dengan tingkat pendapatan per kapita (Gross National Income/GNI) lebih dari US$12,375 per tahun, atau sesuai dengan definisi Bank Dunia.

Kedua, negara berkembang dengan share lebih dari 0,5 persen dari total perdagangan dunia (sebelumnya 2 persen).

Ketiga, negara berkembang yang merupakan anggota Uni Eropa, OECD, dan G-20.

Indonesia kini dikeluarkan dari daftar negara berkembang karena dua kriteria, yakni keanggotaan dalam G-20 dan memiliki kontribusi terhadap perdagangaan dunia lebih dari 0,5 persen. Dengan demikian, Indonesia diklaim sebagai 'negara maju' khusus untuk penyelidikan antisubsidi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper