Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembang Pilih Bangun Rumah Tapak di Kota Penyangga. Kenapa?

Ketersediaan yang terbatas dan harga lahan yang semakin mahal di pusat kota membuat para pengembang kesulitan untuk mengembangkan rumah tapak.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 19 Februari 2020  |  19:42 WIB
Rumah Tapak. - Bisnis.com
Rumah Tapak. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Ketersediaan lahan merupakan salah satu persoalan yang seringkali dihadapi para pengembang untuk membangun rumah tapak khususnya di pusat kota seperti Jakarta yang lahannya kian terbatas.

Commercial and Business Development Director AKR Land Alvin Andronicus mengatakan bahwa tak sedikit pengembang yang mengaku masih terbentur ketersediaan lahan di tengah perencanaan pembangunan rumah tapak.

"Jika ada [lahan], mungkin hanya di bawah 10 hektare. [nantinya] yang dibangun rumah tapak akan kecil, sehingga [pengembang memilih] membangun superblok," kata dia, Rabu (19/2/2020).  

Menurutnya,  pengembang yang memilih membangun konsep rumah tapak di pusat kota meskipun dengan lahan yang terbatas, kemungkinan besar akan mematok harga huniannya cukup mahal.

Alvin mengatakan hal itu dipicu karena harga lahan yang juga cukup tinggi di pusat kota. Dengan harga lahan yang mahal, maka mau tidak mau pengembang akan mematok harga yang tinggi untuk produk hunian yang dipasarkannya.

"Orientasi harga jual kan, pengaruh ke masyarakat. Kalau dibangun pun bisa terjual tidak ke pasar? Ini jadi faktor," katanya.

Melihat kondisi itu, pengembang kemudian beralih untuk membangun rumah tapak di kota satelit atau penyangga yang berujung pada tingkat penyerapan cukup baik. 

Adapun daerah yang banyak disasar untuk pembangunan rumah tapak adalah Bogor, Depok, dan Tangerang. Masyarakat juga dinilai tak masalah untuk memilih hunian di kota satelit.

Dia menyatakan hingga saat ini pangsa pasar rumah tapak juga masih sangat besar, bisa dibilang mencapai 70 persen, sedangkan sisanya adalah apartemen. Namun, kata Alvin, hal itu masih tergantung pada aksesibilitas hunian apakah cukup terjangkau atau tidak.

Sebelumnya, AKR Land Development masih fokus pada pembangunan rumah tapak bertajuk Kawanua Emerald City dan Grand Kawanua International City, di Manado, Sulawesi Utara.

Fokus pengembangan pada kedua proyek tersebut membuat AKR Land belum berencana menambah portofolio baru di segmen rumah tapak.

"Proyek rumah tapak terbaru masih tetap di Manado, kita kembangkan terus," ujar Alvin.

Dia mengatakan kedua proyek properti itu dikembangkan di atas lahan seluas 200 hektare, sehingga proses pengembangannya diperkirakan akan membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Saat ini, sudah ada 500 unit bangunan yang tersedia untuk diserap pasar dengan harga terendah mencapai Rp 600 jutaan. Adapun tiga klaster telah diluncurkan untuk Kawanua Emerald City (KEC). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti rumah tapak pengembang properti
Editor : Fitri Sartina Dewi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top