Tingkat Komponen Lokal AC dan Kulkas Justru Bikin Kontraproduktif

Pasalnya, daya saing industri elektronika di Asia Tenggara telah lebih rendah dari negara-negara kompetitor seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  00:03 WIB
Tingkat Komponen Lokal AC dan Kulkas Justru Bikin Kontraproduktif
Pengunjung mengamati barang elektronik yang dipajang toko Electronic City Indonesia, di KotaKasablanka, Jakarta, Jumat (29/3/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -  Penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimum pada produk industri elektronika, khususnya pendingin ruangan dan lemari pendingin, dinilai justru bersifat kontraproduktif dan menurunkan daya tarik investasi.

Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal mengatakan pengenaan TKDN minimum pendingin ruangan (AC) dan lemari pendingin (kulkas) memiliki lebih banyak menarik hal negatif daripada hal positif. Pasalnya, daya saing industri elektronika di Asia Tenggara telah lebih rendah dari negara-negara kompetitor seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam.

"Ini karena kemampuan TKDN [mereka] yang tidak terlalu strick karena mereka mementingkan volume. Jadi, tidak masalah [mereka] inputnya [bahan baku] impor asalkan volumenya lebih tinggi," katanya kepada Bisnis.com, Selasa (11/2/2020).

Fithra berujar penerapan TKDN pada masa ekspansi seperti saat ini dapat mengoreksi pertumbuhan industri elektronika. Adapun, regulator harus memperhatikan kondisi daya saing industri dan skala keekonomian pabrikan komponen elektronika nasional.

Melihat praktik pabrikan nasional selama ini, ujarnya, daya siang industri komponen elektronika lokal masih rendah. Dengan kata lain penerbitan aturan TKDN bagi AC dan Kulkas dalam waktu dekat tidak tepat.

"[Peningkatan konten lokal] tidak bisa dipaksakan dengan cara menempatkan TKDN yang lebih tinggi karena itu bukan best practice-nya," ujarnya.

Terpisah, Marketing Director PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) Tekno Wibowo mengatakan neraca dagang produk elektronika nasional masih berada di zona hijau. Oleh karena itu, kebijaksanaan Kemenperin dalam usahanya untuk menerapkan TKDN minimum AC dan kulkas patut dipertanyakan.

"Lebih bijak membuat peraturan yang mendukung ekonomi, bukan sebaliknya malah menambah susah ekonomi," katanya kepada Bisnis.com.

Dia menyatakan sebagai produsen lokal, Polytron siap mendukung aturan regulator selama memungkinkan. Adapun, Kulkas berkontribusi hingga 45% dari total portofolio pabrikan, sedangkan AC hanya berkontribusi 5%.

Tekno mempertanyakan kemampuan pabrikan bahan baku produk AC dan Kulkas dalam memenuhi permintaan industri elektronika. Tekno memberikan contoh bahwa mayoritas pabrikan baja saat ini memproduksi baja kasar melainkan baja halus yang dibutuhkan dalam produksi kulkas.

Tekno menyampaikan tingginya volume penerbitan aturan dapat membuat sebuah industri tidak produktif. Pihaknya menyarankan agar Kemenperin terlebih dulu mengevaluasi implementasi aturan TKDN pada produk elektronika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tkdn

Editor : Rio Sandy Pradana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top