Ekspor Kayu Olahan Terancam Virus Corona

Industri kayu olahan di Indonesia mengkhawatirkan dampak negatif dari wabah virus corona yang meluas dan menganggu arus logistik global. Pasalnya, 80%-90% hasil produksi nasional ditujukan untuk pasar global.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  11:03 WIB
Ekspor Kayu Olahan Terancam Virus Corona
Panel kayu dan kayu olahan - Ilustrasi/kemenperin.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku usaha industri kayu olahan mengkhawatirkan dampak virus corona pada kinerja produksi dan penjualan, terutama ekspornya pada tahun ini.

Pengurus Bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Gunawan Salim mengatakan virus corona sampai saat ini terbukti membuat sejumlah aktivitas perjalanan dan logistik terganggu. 

Sementara itu, untuk menggenjot kinerja, mayoritas anggota Apkindo harus melakukan ekspor. Pasalnya, 80%-90% hasil produksi nasional ditujukan untuk pasar global.

"Kecuali kalau dari kayu sengon, yang kebanyakan pabrikannya di Jawa yang masih untuk pasar lokal. Jadi, kami masih menunggu perkembangan dari efek virus ini," katanya kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Sisi lain, Gunawan menyebut dia juga sedang menunggu realisasi penurunan tarif ekspor veneer dari 15% menjadi 5%. Adapun tiga negara yang menjadi pasar terbesar produk ekspor yakni Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Upaya penurunan tarif ekspor tersebut, kata Gunawan, dapat dimanfaaatkan untuk memperbaiki tren penurunan produksi yang sudah terjadi dalam dua tahun ini.

Adapun dengan tarif ekspor yang ada saat ini membuat harga veneer global menjadi US$800 per kubik. Sementara itu, harga veneer di pasar global berada di kisaran harga US$600—US$700 per set. Dengan demikian, pengusaha sulit mendapat margin karena dipakai untuk membayar tarif ekspor. Penurunan bea keluar tersebut dapat membuat industri plywood nasional lebih kompetitif.

Pasalnya, kelebihannya pasokan veneer di dalam negeri membuat nilai veneer  menjadi turun ketika digunakan sebagai kayu inti plywood atau core. Hal tersebut disebabkan oleh core yang hanya dijual sekitar US$200—US$230 per set.

Sementara itu, Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk kapasitas izin produksi lebih dari 6.000 m3/tahun menunjukkan per 2019 capaian produksi Plywood dan LVL hanya 58,96% atau 3,71 m2 dari target 6,30 m2. Capaian itu lebih rendah dibandingkan dengan 2018 yang memiliki capaian 71,17% atau 4,26 juta m3 dari target 5,98 juta m2.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, virus corona, kayu olahan

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top