Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Optimisme Konsumen Melemah, Waspadai Penurunan Daya Beli

Bank Indonesia mencatat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2020 mencapai 121,7 atau melemah dari 126,4 pada Desember 2019 meskipun masih terjaga di level optimis (>100). IKK juga mengalami penurunan dari 125,5 (yoy) pada Januari 2019.Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Januari 2020 dibandingkan Januari 2019 (yoy) juga mengalami pelemahan, masing-masing turun dari 110 ke 109 dan 140,6 ke 133,7.
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia mencatat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2020 sebesar 121,7 atau melemah dari 126,4 pada Desember 2019 meskipun masih terjaga di level optimistis (>100). IKK juga mengalami penurunan dari 125,5 (yoy) pada Januari 2019.

Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Januari 2020 dibandingkan Januari 2019 (yoy) juga mengalami pelemahan, masing-masing turun dari 110 ke 109 dan 140,6 ke 133,7. 

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan data-data yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan sinyal perlambatan konsumsi dan investasi di tingkat nasional. 

"Pelemahan IKK menunjukkan perlambatan ekonomi memang terjadi di Indonesia. Kondisi ini mungkin akan berlangsung beberapa bulan ke depan, jika berharap naik lagi mungkin akan lama," katanya ketika dihubungi Bisnis.com, Kamis (6/2/2020). 

Dia menuturkan data yang dikeluarkan Bank Indonesia sejalan dengan realisasi kinerja konsumsi yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsumsi rumah tangga Indonesia pada kuartal IV/2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,08 persen (yoy). 

Penjualan pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya hanya tumbuh 3,76 persen. Menurutnya, capaian tersebut termasuk melambat, dibandingkan dengan  kuartal IV/2018 sebesar 5,09 persen. Padahal, periode tersebut bersamaan dengan momentum Hari Raya Natal dan Tahun Baru. 
 
Menurut Satria, perlambatan konsumsi rumah tangga juga berimbas pada kinerja emiten-emiten ritel yang melantai di bursa saham. Kondisi tersebut, lanjutnya, belum menggambarkan peningkatan setelah semester I/2019. Dia mengatakan pertumbuhan konsumsi sejalan dengan laju inflasi. Jika inflasi rendah, konsumsi masyarakat pun akan mengikuti. Faktor penentu lainnya, kata dia, kondisi perekonomian global saat ini juga diliputi berbagai sentimen ketidakpastian. 
 
"Jika angka inflasi di bawah 3 persen ya enggak mungkin konsumsi bisa tumbuh sampai 10 persen. Kecuali ada faktor penunjang, misalnya booming harga komoditas booming. Belum ada penambahan pendapatan di masyarakat karena minimnya investasi asing yang masuk," imbuhnya. 
 
Berkaca dari situasi saat ini, dia meminta pemerintah untuk mengantisipasi tren perlambatan daya beli masyarakat. Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang perekonomian terbesar dengan porsi 52 persen. Satria memaparkan ada beberapa hal yang dapat mendongkrak tingkat optimisme konsumen, yaitu penambahan pendapatan dari  kenaikan harga komoditas dan realisasi investasi. 
 
Menurutnya, kemungkinan akan ada katalis dari sisi naiknya harga komoditas crude palm oil (CPO) jika bisa 20 persen—30 persen, harga karet dan batubara yang terkerek hingga 10 persen. Jika hal itu terjadi, masyarakat bisa memiliki harapan yang besar terhadap perekonomian hingga semester I/2020. 
 
"Saya rasa melemahnya optimisme masyarakat bukan sekedar wait and see setelah Pemilu atau perlambatan ekonomi global semata. Memang ada problem struktural dan pemerintah harus segera mencari solusinya," ucap Satria. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper