Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Apindo:Iklim Investasi dan Ekonomi Masih Belum Kondusif

Salah satu upaya untuk memperbaiki iklim usaha dan investasi yang dilakukan adalah perumusan omnibus law, tapi hal tersebut akan sangat bergantung pada kecepatan dan konsistensi pelaksanaannya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  19:52 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) bersiap melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (keempat kiri) serta jajaran pengurus di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (13/6/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo (kanan) bersiap melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (keempat kiri) serta jajaran pengurus di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (13/6/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan belum membaiknya indeks manajer pembelian Indonesia dalam tujuh bulan terakhir disebabkan belum kondusifnya iklim usaha pasca pemilu.

Selain itu, wabah virus corona di China berpotensi mengoreksi pertumbuhan perekonomian nasional lebih lambat lagi.

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan rendahnya indeks PMI hingga 7 bulan berturut-turut disebabkan iklim usaha dan investasi yang tidak kondusif pasca pesta demokrasi 4 tahunan.

Menurutnya, salah satu upaya perbaikan yang dilakukan adalah perumusan omnibus law, tapi hal tersebut akan sangat bergantung pada kecepatan dan konsistensi pelaksanaannya.

"Bila Indonesia bisa memberikan sinyal yang encouraging bagi pelaku pasar, kami bisa berharap akan terjadi rebound [indeks PMI] di akhir tahun, sekitar kuartal III/2020 atau kuartal IV/2020," katanya kepada Bisnis.com, Selasa (3/2/2020).

Shinta menyarankan sinyal yang diberikan berupa percepatan penyelesaian penyusunan Omnibus Law dan memastikan konsistensi pelaksanaanya di lapangan. Menurutnya, kecepatan penyusunan Omnibus Law dapat memberikan dampak positif di pasar secara riil.

Dengan kata lain, Shinta menyampaikan pelaku industri nasional optimistis produktifitas dan pertumbuhan produksi membaik di akhir tahun. Akan tetapi, lanjutnya pemerintah harus bekerja keras menangkap potensi tersebut.

Di sisi lain, Shinta menilai wabah virus corona dapat berdampak pada perekonomian global dan nasional jika berlarut-larut. Shinta mencontohkan wabah virus SARS 2002 silam yang berhasil mengoreksi pertumbuhan perekonomian China, Hongkong, dan berbagai negara di dunia.

"Dampak virus corona secara tidak langsung akan mempengaruhi proyeksi pertumbuhan nasional karena China merupakan trading partner dan investment partner terbesar Indonesia," paparnya.

Namun demikian, ujar Shinta, pemerintah China yakin kegiatan ekonomi akan kembali berjalan seperti semula. Singkatnya, andil pemerintah China dan sentimen global akan menentukan pertumbuhan perekonomian nasional dan global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iklim investasi
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top