Volume Ekspor CPO Berpotensi Terpangkas

Berdasarkan analisis Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dari data tutupan sawit termutakhir seluas 16,31 juta hektare, produktivitas sawit nasional diperkirakan tak setinggi perkiraan sebelumnya.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  19:24 WIB
Volume Ekspor CPO Berpotensi Terpangkas
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Volume ekspor produk sawit dan turunannya pada 2020 berpotensi terpangkas dari tahun lalu lantaran  sangat bergantung dengan pasokan dan produksi dari dalam negeri.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) data tutupan sawit termutakhir seluas 16,31 juta hektare, produktivitas sawit nasional diperkirakan tak setinggi perkiraan sebelumnya.

"Untuk ekspor 2020 kami perlu melihat bagaimana kondisi produksinya. Potensi serapan domestik akan meningkat sekitar 4 juta ton seiring implementasi B30. Apakah produksinya akan naik sebanyak itu? Jika tidak, kemungkinan besar kami akan potong ekspor tapi kami akan melihat dulu kondisinya," ujar Ketua Umum Gapki Joko Supriyono di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Joko melanjutkan, pada tahun ini perkebunan sawit sendiri diperkirakan akan dikaruniai kondisi iklim yang membaik dan harga yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), iklim tahun 2020 cenderung normal dan lebih baik daripada iklim 2019 dengan musim kemarau di sentra produksi yang dimulai pada April-Mei.

"Terdapat perkiraan produksi tahun ini akan terimbas kemarau tahun lalu, tapi kami masih melihatnya realisasinya. Adapun dampak replanting yang dilakukan pada 2018 belum akan terlalu terlihat pada tahun ini, baru akan terasa setidaknya 5 tahun setelah penanaman," jelas Joko.

Data terbaru Gapki memperlihatkan bahwa produksi sawit (CPO dan palm kernel oil/PKO) sepanjang 2019 berada di angka 51,82 juta ton, naik 9,37 persen dibandingkan produksi pada 2018 yang berjumlah 47,38 juta ton. Produktivitas sawit pada 2018 diperkirakan sebesar 3,3 ton/ha dengan asumsi luas sawit 14,3 juta hektare. Jika merujuk pada luas baru, maka produktivitas sawit hanya berkisar di angka 3,17 ton/ha.

Dari sisi ekspor, Gapki mencatat adanya kenaikan sebesar 4,3 persen dari 34,7 juta ton pada 2018 menjadi 36,175 juta ton pada 2019. Lonjakan pertumbuhan justru terlihat dari konsumsi domestik yang berada di angka 13,5 juta ton pada 2018 menjadi 16,67 juta ton atau naik 23% dan banyak didorong oleh serapan CPO untuk program biodiesel

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengemukakan adanya potensi koreksi ekspor biofuel seiring bertambahnya serapan dalam negeri. Pada 2019, dia menyatakan ekspor biofuel mencapai 1,3 juta KL dengan serapan domestik mencapai 6,7 KL.

Dia menyebutkan proudksi biofuel tersebut telah menyerap lebih dari 80% kapasitas produksi nasional sehingga perusahaan produsen biofuel perlu menambah kapasitas produksi jika ingin mengamankan pasar ekspor.

"Sampai akhir tahun 2020 ada perusahaan yang akan menambah kapasitas sebesar 3,6 juta KL, tahun 2021 juga ada rencana tambahan dengan volume yang sama. Peningkatan produksi biofuel diperkirakan baru akan terjadi setidaknya setelah kuartal pertama tahun ini," ujar Paulus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, ekspor cpo, kelapa sawit, gapki

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top