Isu Lingkungan Hambat Bisnis Properti di Bali

Okupansi hotel di Bali sepanjang 2019 cenderung tertekan karena menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah persoalan mengenai lingkungan yang mempengaruhi ketertarikan wisatawan untuk berkunjung
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  17:40 WIB
Isu Lingkungan Hambat Bisnis Properti di Bali
- Seorang penyelam asal Inggris merekam berbagai sampah berserakan di laut saat menyelam di lepas pantai resor wisata Bali. - www.guardian.com

Bisnis.com, JAKARTA – Okupansi hotel di Bali sepanjang 2019 cenderung tertekan karena menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah persoalan mengenai lingkungan yang mempengaruhi ketertarikan wisatawan untuk berkunjung.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa sepanjang 2019 Bali menghadapi kendala yang membuat pertumbuhannya melambat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah masalah lingkungan. 

Selain itu, untuk wisatawan domestik, harga tiket pesawat yang mahal juga menjadi kendala.  

"Sekarang sudah banyak tersebar kalau Bali kotor, banyak sampah, belum lagi sudah macet, jadi wisman sudah mulai berpikir berkali-kali untuk ke Bali," ungkap Ferry saat dihubungi Jumat (31/1/2020). 

Menurut laporan Colliers, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari China dan Australia mengalami penurunan yang signifikan pada 2019 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada 2018, kunjungan wisatawan China dan Australia masing-masing mencapai sekitar 1,30 juta dan 1,1 juta orang, sedangkan pada 2019 kunjungan dari dua negara tersebut turun dengan jumlah masing-masing sekitar 1 juta dan 1,08 juta orang. 

"Menurunnya tamu dari China terjadi sejak penertiban praktik zero dollar tourism dan sebagai dampak dari perang dagang. Hal itu membuat mereka cenderung menahan diri agar tidak bepergian ke luar negeri," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan adanya rencana pemerintah untuk membangun 10 Bali Baru juga secara tidak langsung akan mempengaruhi angka kunjungan wisatawan.  

Positifnya, dengan masih tingginya aktivitas hotel di Bali, tingkat okupansinya sepanjang 2019 masih cukup tinggi, sekitar 78%. Adapun, pada 2020 diperkirakan bisa naik ke 80% dengan minimnya proyeksi tambahan pasok.

Pada 2020 pasar perhotelan Bali diperkirakan masih berjalan stagnan. Kecuali ke depan baik masyarakat dan pemerintah bisa bekerja sama untuk memperbaiki mutu dan kualitas pariwisata di Bali untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. 

Adapun, mengenai virus corona, Ferry menyebut dampaknya ke hotel dan wisata Bali masih belum terukur hingga saat ini. 

"Karena wisatawan yang masih di Bali bisa jadi tinggal lebih lama, walaupun kunjungan yang dari China mungkin banyak yang dibatalkan," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, bali, properti

Editor : Fitri Sartina Dewi
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top