Industri Keramik Siap 'Beres-Beres' Menjelang Penurunan Harga Gas

Adanya penurunan harga gas akan langsung dimanfaatkan oleh pelaku usaha, baik untuk mendorong kinerja atau untuk mengganti permesinan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  14:21 WIB
Industri Keramik Siap 'Beres-Beres' Menjelang Penurunan Harga Gas
Ilustrasi - Indogress

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) menyatakan penurunan harga gas pada medio semester I/2020 akan memberikan pabrikan kesempatan untuk mengganti mesin dan mengembangkan desain.

Dengan demikian, asosiasi meramalkan industri keramik lokal akan mampu bersaing di pasar global pada 2021-2022.

Ketua Dewan Pembina Asaki Elisa SInaga mengatakan realisasi Peraturan Presiden (Perpres) No.40/2016 mengenai penurunan harga gas menjadi US$6 per million british thermal unit (mmbtu) akan membuat pabrikan keramik lokal bertahan di tengah gempuran arus impor.

Adapun, pasar domestik kini dipenuhi oleh keramik impor dari India dan Vietnam setelah safeguard terhadap keramik China diberlakukan tahun lalu.

"[Penurunan tarif gas] mendorong industri, yang sebagian selama 4 - 5 tahun ini tidak banyak berubah, lebih berkembang dalam efisiensi [produksi] dan desain produk untuk dapat berkompetisi dengan pasar internasional," katanya kepada Bisnis.com, Jumat (31/1/2020).

Elisa meramalkan produksi keramik pada tahun ini dapat tumbuh 5persen - 8persen. Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi akhir 2019 di kisaran 4 persen – 5 persen.

Di samping itu, Elisa berujar peningkatan utilitas pabrikan secara signifikan ke level 95 persen hanya dapat ditempuh melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat merangsang proyek-proyek konstruksi ayng saat ini lesu.

Seperti diketahui, utilitas produksi pabrikan keramik pada 2019 berada di level 67,74persen dengan total produksi sekitar 340 juta—350 juta meter persegi (square meter/sqm). Angka utilitas tersebut meningkat dari tahun lalu yakni 60,39 persen dengan total produksi 308 juta sqm.

Jika utilitas pabrikan keramik naik ke sekitar 85 persen—90 persen, dalam 2 tahun, pertumbuhan majemuk tahunan produksi keramik selama 2019—2021 adalah 13,73persen menjadi sekitar 446,25 juta sqm.

Sebelumnya, Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyampaikan pertumbuhan produksi keramik akan ditopang oleh permintaan keramik segmen menengah ke bawah. Pasalnya, lanjutnya, pasar tersebut tidak tersentuh oleh keramik impor  yang menyasar pasar mengenah ke atas dan atas.

“[Produksi keramik] segmen menengah ke bawah banyak didukung oleh proyek-proyek rumah baru, renovasi swadaya, dan program sejuta rumah untuk MBR [masyarakat berpenghasilan rendah] dan rusunawa [rumah susun sewa],” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Gas

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top