Ini Pekerjaan Mendesak Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra

Konsultan penerbangan dari CommunicAvia Gerry Soejatman mengatakan bisnis utama perlu menjadi perhatian utama dalam waktu dekat.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  17:14 WIB
Ini Pekerjaan Mendesak Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra
Irfan Setiaputra - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA -- Jajaran direksi PT Garuda Indonesia Tbk. yang baru terpilih dinilai perlu segera membenahi kinerja bisnis utama yang menjadi tumpuan pendapatan maskapai pelat merah itu.

Konsultan penerbangan dari CommunicAvia Gerry Soejatman mengatakan bisnis utama (core business) perlu menjadi perhatian utama dalam waktu dekat. Pengembangan bisnis noninti juga perlu, tetapi untuk sementara cukup yang berhubungan dengan bisnis utama dulu.

"Core business dulu dibenahi. Asset productivity juga ditingkatkan," kata Gerry, Rabu (22/1/2020).

Dia menambahkan upaya lain adalah meningkatkan pendapatan available seat kilometers (ASK) khususnya dari rute internasional. ASK merupakan satuan ukuran kapasitas penumpang pesawat yang merupakan hasil perkalian antara jumlah total kursi pada seluruh penerbangan yang terjadi dengan jarak penerbangan dalam satuan kilometer.

Berdasarkan data GIAA pada Kuartal III/2019, terjadi penurunan ASK sebesar 10 persen secara grup menjadi 13,2 miliar ASK dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14,7 miliar ASK.

Selain itu, emiten berkode GIAA tersebut juga harus mampu meningkatkan jumlah tonase dan pendapatan kargo udara. Perlu ada optimalisasi kargo memanfaatkan perut (belly) pesawat penumpang tanpa harus melakukan konversi atau membeli pesawat khusus kargo (freighter).

Terlebih, lanjutnya, keputusan Garuda untuk menyatukan bidang niaga dan kargo dalam nomenklatur direksi yang baru dinilai tepat. Nantinya, pengisian pesawat bukan hanya dari penumpang saja, tetapi kargonya juga optimal.

Hingga Kuartal III/2019, Garuda juga telah melakukan penaikan tarif kargo udara sebesar 52,7 persen. Penaikan terbesar ada pada tarif kargo untuk rute domestik sebesar 92 persen, sedangkan rute internasional justru turun 22 persen.

Di sisi lain, Gerry menilai perlu ada perbaikan dari transformasi digital maskapai. Seiring dengan munculnya divisi Teknologi Informasi yang menyatu dengan divisi Layanan dan Pengembangan, diharapkan peningkatan kinerja bisnis sejalan dengan digitalisasi. 

"Selama ini transformasi digital GA belum maksimal. Transformasi digital tidak hanya untuk aspek transaksi bagi penumpang, tetapi bisa ke lini bisnisnya secara menyeluruh," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia, erick thohir

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top