Asia Tenggara Bakal Dongkrak Kinerja Ekspor Indonesia

Apindo meyakini ekspor tahun ini akan lebih baik, penetrasi ke kawasan Asia Tenggara sudah mulai berjalan.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  04:34 WIB
Asia Tenggara Bakal Dongkrak Kinerja Ekspor Indonesia
Kapal kargo bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar New Port (MNP), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (25/3/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani beberapa tahun belakangan banyak pelaku usaha di Tanah Air yang mulai melirik dan akhirnya melakukan penetrasi ke negara-negara di Asia Tenggara.

Menurutnya, hasil dari penetrasi tersebut kemungkinan besar bakal dirasakan pada 2020, setelah komoditas yang dikirimkan berhasil mencuri hati konsumen setempat.

“Jadi kami meyakini ekspor tahun ini akan lebih baik, penetrasi ke kawasan Asia Tenggara sudah mulai berjalan yang sebelumnya bahkan tidak pernah dipikirkan oleh teman-teman [pelaku usaha],” katanya ketika ditemui di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2019 tercatat kontribusi ekspor nonmigas Indonesia ke kawasan Asia Tenggara mencapai 23% dari total nilai ekspor nonmigas US$154,99 miliar atau senilai US$35,64 miliar.

Adapun, Laporan Perkembangan Ekonomi Terkini Desember 2019 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) mencatat komoditas besi dan baja serta kendaraan bermotor roda empat mendominasi ekspor nonmigas Indonesia ke kawasan tersebut.

Lebih lanjut, menurut Hariyadi hal yang terpenting yang perlu dipikirkan adalah bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk memperkuat peran Indonesia dalam perdagangan intrakawasan yang semakin masif. Hal itu senada dengan laporan yang dirilis McKinsey Global Institute (MGI) bertajuk Asia's Future is Now yang menungkapkan sejak tahun 2017, sekitar 52% porsi perdagangan di Asia Tenggara merupakan perdagangan intrakawasan.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan penetrasi yang baru-baru ini dilakukan oleh pelaku usaha Indonesia di kawasan Asia Tenggara bisa dibilang terlambat. Pasalnya, penurunan tarif terhadap lebih dari 95% produk yang diperdagangangkan antarnegara di kawasan tersebut sudah ada sejak 2012. Selain itu, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga sudah berjalan sejak 2015.

Adapun, saat ini menurut Shinta penetrasi yang dilakukan oleh pelaku usaha dari Tanah Air di negara-negara Asia Tenggara banyak dilakukan oleh mereka yang baru pertama kali mengekspor. Selain faktor geografis dan keterbukaan pasar, penetapan standar yang cenderung mudah untuk dipenuhi juga menjadi pertimbangan bagi mereka.

“Pasar Asia Tenggara bisa dianggap sebagai batu loncatan pertama bagi pelaku usaha Indonesia untuk ekspansi perdagangan dan investasi ke pasar internasional yang lebih rumit karena keterbukaan pasar disana yang terluas bagi mereka. Selain itu regulasi dari negara-negara disana juga cenderung mirp dengan Indonesia,” katanya kepada Bisnis.

Shinta menambahkan resiko pasar di kawasan Asia Tenggara juga bisa dibilang rendah dibandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya. Selain itu, kedekatan lokasi juga membuat segala permasalahan yang kemungkinan terjadi bisa diselesaikan dengan mudah oleh pelaku usaha secara langsung.

“Pelaku usaha bisa dengan mudah mendatangi negara tersebut untuk memonitor bisnisnya secara langsung karena dekat secara geografis,” imbuhnya.

Adapun, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut, dengan target pertumbuhan ekspor nonmigas di kisaran 7,75-11,09% pada 2020, maka strategi peningkatan ekspor nonmigas diarahkan untuk memperluas pasar ekspor baru selain mengamankan pasar ekspor utama, tak terkecuali adalah Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, apindo

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top