Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

997 Sapi Berada di Zona Merah, Vaksin Antraks di Gunungkidul Ditambah

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui pelaksana teknis Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan pemerintah daerah Gunungkidul mengalokasikan bantuan tambahan guna mencegah penyebaran wabah antraks.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  17:30 WIB
Bakteri Bacillus anthracis penyebab antraks - wikipedia
Bakteri Bacillus anthracis penyebab antraks - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui pelaksana teknis Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan pemerintah daerah Gunungkidul mengalokasikan bantuan tambahan guna mencegah penyebaran wabah antraks usai sejumlah hewan ternak dipastikan mati akibat penyakit yang dipicu bakteri Bacillus anthracis tersebut.

Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengemukakan bantuan tambahan setidaknya mencakup 5.000 dosis vaksin antraks, 250 liter desinfektan, 250 botol antibiotik dan 250 ruboransia. Pemberian antibiotik dan vaksinasi dilakukan di daerah yang berisiko terpapar sebaran bakteri.

"Sudah ada 245 ekor kambing dan 78 ekor sapi yang telah menerima antibiotik dan vaksin," kata Fadjar dalam pesan tertulis kepada Bisnis, Selasa (14/1/2019).

Berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, penyakit yang bisa menjangkiti manusia tersebut telah mengakibatkan kematian tiga ekor sapi dan enam ekor kambing di Dusun Ngrejek Wetan, Gombang, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.

Adapun hasil investigasi di lapangan menunjukkan bahwa kasus antraks ini terjadi lantaran adanya pemasukan ternak terinfeksi dari daerah lain yang telah terjangkiti.

"Penyakit kemudian menyebar karena adanya pemotongan ternak kambing terinfeksi di sekitar lokasi kejadian. Darah kambing tertular mencemari tanah dan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan penyakit menulari hewan lainnya," jelas Fadjar.

Dia mengemukakan setidaknya terdapat sekitar 997 ekor sapi dan 1.413 ekor kambing serta domba di Kecamatan Pojong yang merupakan zona merah atau daerah tertular. Sementara untuk zona kuning, yakni Kecamatan Semanu yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Pojong, terdapat 941 ekor sapi serta 2.362 ekor kambing dan domba.

"Untuk pencegahan, saat ini sedang dilakukan vaksinasi pada hewan sehat dan pemberian antibiotik untuk hewan yang diduga sakit," imbuhnya.

Pihaknya pun mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk menghindari pembelian ternak yang sakit dan konsumsi daging dari ternak yang tak sehat. Diseminasi informasi mengenai ciri-ciri antraks pun dilakukan agar masyarakat bisa segera melakukan pelaporan jika mendapati ternak sakit.

Adapun populasi total di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan data Ditjen PKH yakni sebanyak 314.914 ekor sapi, 4.125 sapi perah, 650 ekor kerbau, 401.112 ekor kambing, dan 195.220 ekor domba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peternakan antraks
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top