Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inflasi Korsel Melambat ke Rekor Terendah sejak 1966

Korea Selatan mencatat inflasi 0,4 persen pada 2019, yang terlemah sejak tahun 1966, karena ketidakpastian dari perang perdagangan dan perlambatan dalam siklus teknologi global menekan permintaan konsumen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Desember 2019  |  08:47 WIB
Salah satu wajah pusat bisnis Seoul, Korea Selatan. - Reuters/Kim Hong-ji
Salah satu wajah pusat bisnis Seoul, Korea Selatan. - Reuters/Kim Hong-ji

Bisnis.com, JAKARTA – Korea Selatan mencatat inflasi 0,4 persen pada 2019, yang terlemah sejak tahun 1966, karena ketidakpastian dari perang perdagangan dan perlambatan dalam siklus teknologi global menekan permintaan konsumen.

Dilansir Bloomberg, Biro Statistik Korsel mencatat indeks harga konsumen (IHK) naik 0,7 persen pada bulan Desember dari tahun sebelumnya. Angka tersebut sedikit di atas median estimasi dalam survey Bloomberg terhadap para ekonom yang mencatat penguatan 0,6 persen dan kenaikan 0,2 persen pada November.

Korea Selatan telah bergulat dengan inflasi di bawah target 2 persen tahun ini. Meskipun Bank of Korea telah memangkas suku bunga dua kali tahun ini, hal tersebut tidak banyak membantu meningkatkan laju inflasi.

Meskipun pertumbuhan IHK yang mendekati level nol telah memicu kekhawatiran tentang risiko deflasi, pembuat kebijakan menganggap kekhawatiran tersebut berlebihan dan menyalahkan harga pangan yang lebih tinggi dari biasanya tahun lalu sebagai penyebab turunnya IHK.

Ekonomi Korea Selatan diperkirakan akan tumbuh 1,9 persen tahun ini, laju paling lambat dalam satu dekade, menurut ekonom yang disurvei Bloomberg. Penurunan ekspor telah memaksa pemerintah dan bank sentral untuk memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi menjadi 2 persen.

Bank of Korea memperkirakan inflasi akan meningkat secara bertahap menjadi 1 persen pada tahun 2020. Dalam pernyataan kebijakan tahun 2020, bank sentral berjanji untuk menjaga kebijakan yang akomodatif karena tekanan inflasi dari sisi permintaan kemungkinan akan tetap lemah.

"Korea telah memasuki disinflasi dan ada kekhawatiran bahwa dalam waktu dekat akan berubah menjadi deflasi," kata Ahn Dong-hyun, profesor ekonomi di Seoul National University.

"Ekonomi kehilangan dinamika, yang mengarah pada konsumsi dan investasi yang rendah, sehingga melemahkan inflasi," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Kebijakan kesejahteraan pemerintah mendorong inflasi lebih rendah pada 2019, tetapi "faktor yang lebih signifikan kemungkinannya adalah permintaan yang menurun karena lingkungan ekspor yang tidak bersahabat dan pertumbuhan tren produk elektronik yang menurun", ungkap Park Chong-hoon, seorang ekonom di Standard Chartered Bank

“Ini membuat kita percaya bahwa inflasi IHK tidak akan meningkat pada tahun 2020," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Ekonomi Korsel
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top