Aturan Properti Tekan Pertumbuhan Korea Selatan

Sejak menjabat sebagai Presiden Korea Selatan pada 2017, Moon Jae-in berjanji untuk mengendalikan harga perumahan melambung tinggi. Namun, tujuan tersebut membawa konsekuensi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  09:07 WIB
Aturan Properti Tekan Pertumbuhan Korea Selatan
Salah satu wajah pusat bisnis Seoul, Korea Selatan. - Reuters/Kim Hong-ji

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak menjabat sebagai Presiden Korea Selatan pada 2017, Moon Jae-in berjanji untuk mengendalikan harga perumahan melambung tinggi. Namun, tujuan tersebut membawa konsekuensi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Dilansir dari Bloomberg, meskipun penurunan ekspor cenderung disalahkan atas ekspansi tahunan paling lambat Korsel dalam satu dekade terakhir, pelemahan dalam sektor bangunan menjadi hambatan besar pada ekonomi kuartal terakhir, dan masalah ini sebagian disebabkan oleh pemerintah sendiri.

Data revisi yang dirilis Selasa (3/12/2019) menunjukkan bahwa ekonomi Korea Selatan meningkat 0,4 persen pada kuartal ketiga dari tiga bulan sebelumnya, dengan investasi konstruksi melemah 0,9 poin.

Menekan Pertumbuhan

Moon menjabat dengan menerapkan kebijakan populis, berjanji untuk memberantas korupsi dan mengatasi ketidaksetaraan dengan menaikkan upah minimum dan menghentikan harga rumah yang naik begitu cepat.

Untuk mengurangi spekulasi di pasar real estat dan menstabilkan harga, pemerintah memperkenalkan lebih dari belasan langkah, termasuk pengetatan aturan pinjaman dan peningkatan pajak properti untuk rumah yang lebih mahal. Bulan lalu, pemerintah menetapkan batas harga pra-penjualan di beberapa apartemen di kota Seoul.

Langkah-langkah itu gagal menghentikan kenaikan harga yang dramatis di wilayah elit seperti Gangnam, di mana harga apartemen naik lebih dari 20 persen selama dua setengah tahun di bawah pemerintahan saat ini, tetapi kenaikan tersebut memiliki beberapa manfaat luas.

Pertumbuhan utang rumah tangga cenderung lemah selama 11 kuartal berturut-turut dan laju peningkatan harga apartemen telah melambat secara nasional. Sejak Moon diangkat, harga pembelian rata-rata di seluruh negeri telah meningkat hanya 3,5 persen, menurut data yang disusun oleh KB Financial Group.

Berbicara di televisi nasional bulan lalu, Moon mengatakan dia siap untuk melakukan lebih banyak lagi untuk membatasi harga. "Pemerintah tidak akan menggunakan pasar properti sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan," katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Peraturan Pemerintah Menambah Lambat

Namun, dengan sektor konstruksi menyumbang sekitar 15 persen dari ekonomi Korsel, pertumbuhan secara keseluruhan justru terpukul. Meskipun sebagian besar ekonom dan bank sentral memperkirakan pertumbuhan akan meningkat pada tahun 2020, dengan sebagian besar sektor termasuk ekspor pulih, investasi konstruksi diperkirakan akan melanjutkan kontraksi.

"Pasar properti masih akan terkoreksi setelah pra-penjualan apartemen memuncak pada 2015, tetapi peraturan pemerintah menambah lambatnya pemulihan", kata Stephen Lee, seorang ekonom di Meritz Securities.

Construction & Economy Resarch Institute of Korea mengatakan jatuhnya investasi konstruksi akan mengurangi 0,36 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020, dan mengurangi penciptaan lapangan kerja sebesar 72.000.

Pekan lalu Bank of Korea, yang memangkas perkiraan pertumbuhan untuk tahun depan, mengatakan pihaknya memperkirakan penurunan investasi sektor konstruksi akan berlanjut hingga 2021.

"Pemulihan di sektor ini tetap tidak pasti bahkan pada tahun 2021 jika kebijakan pemerintah tentang pengaturan pasar properti tidak berubah," kata Hong Junpyo dari Hyundai Research Institute.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ekonomi Korsel

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top