Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Adopsi Teknologi Industri 4.0 Makin Luas

Kesadaran untuk mengadopsi teknologi industri 4.0 oleh pelaku industri lokal cukup tinggi pada tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 12 Desember 2019  |  16:33 WIB
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri meyakini adopsi teknologi industri 4.0 pada tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini. Adapun, industri makanan dan minuman (main) dinilai memiliki tingkat adopsi tertinggi pada sektor manufaktur.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hadi Surjadipraja mengatakan pihaknya terus mendorong adopsi teknologi industri 4.0 kepada seluruh anggotanya. Namun, tingginya harga teknologi tersebut membuat adopsi oleh industri komponen otomotif lambat.

“Yang penting ada efisiensi. Masalahnya, bisa menghasilkan efisiensi atau tidak harus investasi terlebih dahulu. Jadi harus memilih melakukan efisiensi di proses apa lebih dulu,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Hadi menyatakan produksi pada tahun ini tersendat seiring berkurangnya produksi mobil dan motor di dalam negeri. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) menyatakan produksi mobil pada Januari—Oktober 2019 turun 4,61% dari realisasi periode yang sama 2018 sebanyak 1,1 juta unit.

Hadi berharap produksi komponen otomotif pada akhir tahun ini setidaknya bisa sama dengan realisasi akhir tahun lalu. Dia optimistis produksi komponen otomotif pada tahun depan dapat tumbuh sekitar 10% dari realisasi tahun ini.

PT Schneider Electric Indonesia (SEI) menyatakan kesadaran untuk mengadopsi teknologi industri 4.0 oleh pelaku industri lokal cukup tinggi pada tahun ini. Tingginya kesadaran tersebut akan membuat nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) pada tahun depan meningkat.

“Apakah INDI akan tumbuh pada tahun depan? Saya tidak tahu, tapi saya mengira jawabannya iya. Kalau nilai INDI 4.0 turun justru akan sangat mengkhawatirkan,” kata Country President SEI Xavier Denoly.

Xavier meramalkan volume produksi perangkat industri 4.0  perseroan akan tumbuh pada tahun depan. Menurutnya, proyeksi tersebut sejalan dengan kebutuhan pelaku industri untuk melakukan efisiensi pada penggunaan energi pada tahun depan.

Xavier mengatakan pihaknya dan Kemenperin telah melatih lebih dari 350 pelaku industri dan memfasilitasi lebih dari 1.500 orang dari sekitar 300 perusahaan untuk mengunjungi pabrik pintar di Batam tahun ini.

Adapun, SEI telah ditunjuk oleh Kemenperin untuk menjadi pabrik percontohan adopsi teknologi industri 4.0 nasional dan mewakili Indonesia di Hannover Messe tahun depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Revolusi Industri 4.0
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top