Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Teknologi Bisa Bebaskan Indonesia dari Middle Income Trap

Dean of Asian Development Bank Institute (ADBI) Prof. Naoyuki Yoshino bahwa Indonesia masih sangat tertinggal dibandingkan negara lain dalam hal riset untuk pengembangan teknologi.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  16:55 WIB
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza (kanan) saat mengunjungi Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait kerjasama dalam pengelolaan kelapa sawit menjadi biofuel beberapa waktu lalu./Istimewa - ilustrasi
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza (kanan) saat mengunjungi Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait kerjasama dalam pengelolaan kelapa sawit menjadi biofuel beberapa waktu lalu./Istimewa - ilustrasi

Bisnis.com, NUSA DUA - Indonesia perlu menarik investasi asing yang mampu menstimulasi pengembangan teknologi agar dapat terlepas dari jebakan kelas menengah atau middle income trap.

Di samping mengembangkan sumber daya manusia (SDM), pengembangan teknologi juga diperlukan dalam rangka meningkatkan produktivitas.

Dean of Asian Development Bank Institute (ADBI) Prof. Naoyuki Yoshino bahwa Indonesia masih sangat tertinggal dibandingkan negara lain dalam hal riset untuk pengembangan teknologi.

Pada sektor manufaktur, hanya sebagian kecil korporasi besar yang memiliki fokus untuk pengembangan riset dan inovasi.

Hingga saat ini, Yoshino mengatakan bahwa teknologi yang digunakan oleh sektor manufaktur di Indnesia merupakan teknologi yang diadopsi ataupun dimiliki oleh negara lain.

Indonesia memiliki potensi untuk terjebak dalam middle income trap apabila tidak mampu mengembangkan teknologinya sendiri.

Hal ini sangat mungkin terjadi karena investor bisa saja meninggalkan Indonesia apabila ada negara lain yang menawarkan upah tenaga kerja yang lebih kompetitif dibandingkan Indonesia. "Investor pada akhirnya akan membawa teknologi yang mereka miliki ke negara tujuan yang baru," ujar Yoshino, Kamis (5/12/2019).

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Hidayat Amir menerangkan bahwa Indonesia sudah memiliki perekonomian yang stabil dan tidak lagi tergolong ke dalam fragile five seperti sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi dalam 5 tahun terakhir turut dibarengi dengan penurunan ketimpangan, kemiskinan, dan penganngguran.

Adapun berdasarkan proyeksi Kementerian PPN/Bappenas, Indonesia akan menjadi negara kelas menengah atas dan diproyeksikan akan keluar dari jebakan negara kelas menegah pada 2036.

Pada 2045, Indonesia diproyeksikan menjadi negara maju dengan populasi mencapai 319 juta orang di mana 47% di antaranya dalam usia produktif dan 70% di antaranya merupakan masyarakat kelas menengah.

Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai 2015 hingga 2045 perlu mencapai 5,7% dengan pertumbuhan PDB per kapita mencapai 5%.

Meski demikian, rendahnya produktivitas dan pasar tenaga kerja yang tidak kompetitif bisa menjadi penghambat pertumbuhan perekonomian Indonesia ke depan.

Untuk diketahui, terdapat tiga sumber pertumbuhan yakni modal, tenaga kerja, dan produktivitas faktor total. Sebelum krisis 1998, ketiga sumber pertumbuhan tersebut berkontribusi kepada perekonomian secara merata.

Pasca-1998, kontribusi produktivitas faktor total semakin menurun dan peran modal dari tahun ke tahun semakin mendominasi. Di satu sisi, pasar tenaga kerja Indonesia masih terhambat oleh regulasi yang tidak akomodatif sehingga menghambat transformasi pada sektor tersebut.

Akibatnya, tenaga kerja yang bekerja di sektor informal masih cenderung tinggi dan belum ada pergeseran tenaga kerja dari sektor dengan produktivitas rendah menujuk sektor dengan produktivitas tinggi.

Pada satu sisi, tenaga kerja Indonesia memang banyak bergeser dari sektor agrikultur ke sektor manufaktur. Namun, pergeseran tenaga kerja tersebut faktanya tidak diimbangi dengan meningkatnya produktivitas. "Nampak tenaga kerja berpindah sektor tetapi tetapi produktivitasnya tidak bertambah. Ini adalah transformasi yang tidak sehat," ujar Hidayat, Kamis (5/12/2019).

Idealnya, sektor manufaktur seharusnya mampu meningkatkan produktivitas dan mendukung perkembangan transformasi digital.

Apabila ditilik lebih lanjut, nampak bahwa sektor manufaktur di Indonesia masih didominasi oleh manufaktur yang menggunakan teknologi rendah yang juga menghasilkan produk dengan nilai tambah yang rendah.

Dari keseluruhan sektor manufaktur, 47,2% di antaranya merupakan sektor manufaktur yang memanfaatkan teknologi rendah. Adapun manufaktur yang memanfaatkan teknologi tinggi mencapai 27,7%.

Di lain pihak, data Asian Development Bank (ADB) mengungkapkan bahwa sektor manufaktur yang masih mengadopsi teknologi rendah di Indonesia saat ini mencapai 64%, sedangkan sektor manufaktur yang sudah memanfaatkan teknologi tinggi baru mencapai 6%.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh ADB terhadap pelaku usaha di sektor manufaktur, ditemukan bahwa 70% dari pelaku usaha mengamini bahwa adopsi teknologi bakal meningkatkan produktivitas.

Meski demikian, 55% pelaku usaha yang disurvei menilai bahwa adopsi teknologi membutuhkan pendanaan yang besar dan 37% pelaku usaha mencatat adanya resistensi atas perubahan yang berpotensi menghambat adopsi teknologi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

middle income trap
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top