Produk Ban Indonesia Diminta Ikuti Standar Internasional

Ban produksi pabrikan lokal memiliki kandungan karet alam yang lebih banyak dibandingkan dengan kebanyakan ban pada pasar global.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  11:47 WIB
Produk Ban Indonesia Diminta Ikuti Standar Internasional
ilustrasi - Goodyear

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi produsen ban asal Jepang meminta agar pabrikan ban di Indonesia menyesuaikan produknya dengan standar ban internasional agar pasar semakin terbuka. Pasalnya, ban produksi pabrikan lokal memiliki kandungan karet alam yang lebih banyak dibandingkan dengan kebanyakan ban pada pasar global.

“Japan Automobile Tyre Manufactures Association [JATMA] minta disesuaikan, tapi tidak bisa karena karakter lumpur kita dan kebiasaan masyarakat saat mengemudi beda. Lumpur kita tajam [kalau kering]. Ban-ban dari China dan India itu bolong kalau hujan deras dan kena lumpur kering tajam di pinggir jalan,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Azis Pane baru-baru ini.

Selain kontur jalan yang berbeda, Azis mengatakan ban lokal juga telah disesuaikan dengan budaya masyarakat yang kerap membawa muatan yang berat.

Pihaknya mengajak investor jepang untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik ban radial bus dan truk. Pasalnya, hanya ada dua yakni PT Hankook Tire Indonesia dan PT Gajah Tunggal Tbk.

Asosiasi mencatat kapasitas gabungan produksi ban radial bus dan truk kedua perusahaan tersebut hanya 250.000 pasang, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 3 juta pasang. Selama ini pengguna ban radial truk dan bus bergantung pada impor dari China dan India.

Selama 2014—2018, neraca dagang ban selalu surplus yang secara konsisten ditopang oleh penjualan ban mobil biasa. Tahun lalu, industri ban lokal mampu mengekspor 435.411 ton ban mobil senilai US$1,3 miliar.

Kendati demikian, ban untuk bus selalu membukukan neraca dagang yang defisit. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan produksi ban bus dan truk yang belum mencukupi permintaan dalam negeri, khususnya ban radial bus dan truk.

“Respons mereka positif karena saya sampaikan peta Indonesia. Mereka baru sadar bahwa Indonesia ini besar. Mereka akan menambahkan [produksi] ban radial truk dan bus ke Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan telah ada sinyal investasi dari pelaku industri ban radial bus dan truk dari Eropa Timur. Menanggapi hal tersebut, Azis menyampaikan pelaku industri tersebut masih menunggu waktu yang tepat untuk berinvestasi.

Azis menilai minimnya minat pabrikan lokal untuk memproduksi ban radial bus dan truk disebabkan oleh kombinasi harga jual ban radial yang tinggi dan daya serap masyarakat yang rendah. Menurutnya, harga ban radial bus dan truk di pasaran saat ini lebih mahal 3—4 kali lipat dari ban bus dan truk biasa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top